Saturday, 10 June 2017

(Puisi) Tentang Kamu

Tentang Kamu



Malam menjelang mengganti siang
meninggalkan sang surya pada peraduan
kini rembulan tengah bertengger
ditemani kerlipan bintang di langit semesta 


Angin berhembus membelai rambutku
temani sepi dalam rongga batinku
angan melayang menerobos ruang waktu
menuju tak terbatas pada imajinasi semu


Kususuri luasnya lautan
mencari cinta yang hilang
berharap dari indah di sana
kutemukan kamu

Bandung Barat, 10/06/2017
@Ardian_handoko

Wednesday, 7 June 2017

(Prosais) Perasaaan itu seperti bunga

Perasa itu seperti bunga



     Ada bunga-bunga yang tumbuh tanpa pernah kau semai, ia memilih bermekaran tanpa perlu menunggu belaianmu. Memanjakan matamu, meski sesaat, lalu dipakai para bocah-bocah kecil bermain. Tapi tidak bisa begitu dengan cinta, Dini.


      Yang tumbuh di sisi-sisi taman, mengganggu netramu itu benalu, Din. Rumput-rumput itu tak diharapkan, seperti sekumpulan penyesalan.


      Tapi jika itu sebuah keputusan, selamat menata tamanmu sendiri, aku pamit meski perasaan-perasaan itu tak bisa seutuhnya kucabut. Bahkan ketika harus dibakar.


      Kukirimkan do'a-do'a yang semoga menyinari jalan masa depanmu (juga aku)

Bandunng Barat, 07/06/2017
@Ardian_handoko

Thursday, 1 June 2017

Prosais; Catatan masalalu


    Rasanya menyenangkan mengingat kau dan semua kenangan kita dalam gelap, samar namun terasa begitu dekat dengan nadiku, cerita masa lalu itu bergerak dan kita seperti menonton film 3D yang kemana pun  kita menatap, kita hanya melihat kenangan itu bergerak seperti kupu-kupu di atas taman yang indah, rasanya hanya itu yang bisa kita fikirkan, bayang-bayang samar menari dalam hangatnya lilin kenangan yang tanpa kusadari, cairkan air mata yang dulu membeku dalam tatapan penuh imajinasi sempurna.
    Saat lagu kudengar begitu keras, tawamu yang begitu indah menggantinya, seperti alunan gitar yang dimainkan oleh dewa, mendengar bait-bait katamu, hati kuterjatuh dalam kebahagian semu, melihat aku dan kamu berdekatan begitu mesra hingga petir di langit yang gelap pun rasanya hanya membelai telinga kita, seharusnya kita tersadar bahwa cinta kita abadi dalam balutan ruang dan waktu, meski harus berakhir dengan tangis dan derita.

    Mimpi indah itu berakhir, berganti dengan dunia yang membuat keretakan hati, mengalirkan panasnya lava dipipi yang tampak tak seindah rembulan, remang-remang masa depan terasa gelap tanpa penjelasan berarti, seperti memasuki gua tanpa ditemani pantat kunang-kunang yang berkelap kelip indah tak terkira, tanpa lentera dan yang jelas tanpa hadirmu.

    Coretan-coretan yang dulu tak berharga, kini jelas melebihi emas, bagai penyihir, membuat permata dari debu yang berterbangan tertiup angin, bahkan angin terasa seperti tornado, entahlah mengapa dunia kini berbeda.
    Dunia begitu berpasangan, siang-malam, langit-bumi, cinta-derita, tawa-duka, hingga rasanya pelangi tak seindah dunia yang memilikinya, hingga suatu saat kusadari, ulat yang menjijikan itu bisa berubah menjadi kupu-kupu cantik pada saatnya, bahkan kini kutersadar, saat dinginnya udara subuh menusuk tulangku, indahnya langit pagi saat itu tak tertandingi, Tuhan tuliskan cerita indah di balik kesulitan kita, dia buat kita berpikir saat kepedihan datang, kita tak sadari banyak hal-hal indah di sekeliling kita, seperti saat malam pekat, dan dingin yang menyerang, DIA perlihatkan bintang yang berkelap-kelip indah di atas kepala kita bersama rembulan yang mungkin cahayanya redup atau sebagian tubuhnya hilang dimakan mahluk-mahluk langit, hingga hanya terlihat melengkung indah seperti senyummu.


30/05/2017, Bandung Barat
@ArdianHandoko

Sunday, 28 May 2017

(Puisi) Berhenti Berpura-pura

Berhenti Berpura-pura


Aku yang konyol ini tak sengaja menyentuh bagian tersensitif dari tubuhmu
Seperti tamu yang pernah duduk lalu disuguhi kopi
Terlalu jauh melangkah, tak pernah tau bahwa ini salah
Tak maksud pura-pura mencintaimu


Mulut ini lelah menahan kata
Di beberapa bagian cerita yang belum terkata
Seandainya dulu kau mau membaca gerakku
Bukan maksud hati, hanya ...
Aku tak pernah memakai hati


Aku merasa sangat menyesal
Entah, aku yang menebar, atau kau yang terlalu cepat tumbuh
Sedangkan waktu hanya eksistensi dari takdir
Tak bisa diubah, tak perlu disesali
"Maaf, hatiku masih untuķnya."


Bandung Barat, 2017
@Ardian-Handoko

Image result for gambar galau kartun
pict by google

Sunday, 21 May 2017

(Puisi) Cinta Sesaat

Cinta Sesaat


Cinta itu berdua, bukan mendua
dijalin itu setia, bukan berdusta
aku ingin hanya kita
tanpa dia

Kau! Layukan bunga yang hampir merekah
kau! Tebang pohon yang sebentar lagi berbuah
aku memilih orang yang salah
kehabisan arah, pasrah, payah!

"Kamu gak tulus mencintai aku?"
dari mana kamu tau?
kau ,,, kau ,,,
Bam!
aku lagi-lagi menangis

Ciptakan ilusi
berikan ribuan janji
namun semua hanya mimpi
iia, hanya mimipi

Apa yang pernah terucap
bakar amarah hingga meluap
sakiti cinta yang suci
mengubah cinta jadi dengki
kini, kau dan aku
telah berbeda

Bandung Barat, 20/05/2017
@Ardian_handoko

Image result for gambar galau kartun
pict by google