Showing posts with label fiksimini. Show all posts
Showing posts with label fiksimini. Show all posts

Thursday, 26 April 2018

FlashFiction; Senja Di Tepi Pantai

Senja mulai merayap mendatangi kami. Sudah sedari pagi kami bermain-main di pantai ini. Pasir putih, angin, debur ombak dan segala hal yang indah. Kami melakukan banyak hal di sini.


Kini jingga telah lahir, memaksa kami sekeluarga harus segera berkemas untuk pulang. Liburan yang sungguh berkesan, hingga dengan berat hati kami tinggalkan.


Raut-raut kekecewaan terpancar dari wajah kami. Namun adik bungsuku yang terlihat paling sedih. Sebagai Kakak yang baik, aku mencoba menghiburnya, "Jangan terlalu sedih, Dik. Semoga saja, nanti Ayah punya waktu lagi, hingga kita bisa kembali berkunjung ke tempat ini."



"Bukan masalah itu, Kak."



"Lalu?"


"Aku ... aku tadi tak sengaja menelan ombak."


"Maksudmu?" Segera kulihat laut. Begitu tenang, begitu hening.

SENJA DI TEPI PANTAI - Kami sekeluarga cemas, adik belum bisa mengembalikan ombak.
2016

Wednesday, 10 May 2017

FlashFiction; Hadiah

 Hadiah


  Hanya terdengar sayup-sayup suara angin, diselingi dengkuran suara burung hantu yang melatar belakangi taman ini. Aku lebih suka menunggu di tempat seperti ini karena jarang dilalui oleh masyarakat dan aku bisa tenang menunggunya.

    "Sudah lama nunggunya, Kak?" Suara lembut itu masuk ke dalam gendang telingaku.

    "Lumayan," balasku. Kulirik pemilik suara itu. Dia adalah Kai, gadis yang telah beberapa bulan ini kuincar untuk menjadi kekasihku.

    "Sorry ya, Kak. Biasa, Nyokap suka sewot."

    "Nyantai aja, kali Kai. Lagian, aku cuman mau ngasih ini," kuberikan kotak yang terbungkus kertas kado warna merah kepadanya.

    "Apa ini Kak Roni?" ucapnya sedikit bingung ketika menerimanya.

    "Hadiah buat kamu, Kai," kupasang senyum paling manis untuknya, "silahkan dibuka."

    "Bukan bom, kan?" Sebelah alis gadis itu terangkat.

    "Setidaknya kalo itu bom, kita mati berdua. Kaya Romeo dan juliet haha ...." kelakarku.

    "Dasar konyol! Aku buka aja deh ya, biar ga penasaran," jari lentik itu dengan kasar merobek kertas pembungkusnya. "Toples? Tanpa isi? Apa ini bercanda, Kak?"

    "Isinya sangat berharga, Kai. Cuman belum keliatan aja."

    Gadis di depanku pun segera membuka penutupnya. Lalu suara sayup-sayup angin kembali melatar belakangi tempat ini.

Bandung Barat, Mei, 2017
#Ar_rha (@ArdianHandoko)


Friday, 28 April 2017

FlashFiction; Sabar



Sabar

    . "Kenapa sih kalian masih *keukeuh gangguin aku?" Arffa menatap beberapa wanita di ruangan itu.

    "Aku gak rela kamu sama cewe lain, Ar. Sampe kapan pun!" Mata wanita itu seolah berbicara. 'Lo sama gue selamanya! Titik.'

    "Terus kenapa waktu kita masih jadian, kamu malah pergi gitu aja ninggalin aku, Sya?"

    "Aku nyesel, Ar. Please! Kita harus balikan lagi, iia?" Nada suaranya penuh pengharapan.

    Tak menjawab, lelaki itu memindahkan pandangannya pada wanita berkulit putih di sebelahnya.

    "Aku sayang kamu. Kamu juga harus sayang aku dong. Selain itu, aku udah berubah, gak egois kaya dulu."
  
    "Bukannya gak relain mantan juga termasuk egois ya, Ra?"

    Rara bungkam seribu bahasa. Tak berkutik.
    "Ines udah berusaha lupain kamu, Beib. Tapi ... rasanya semua itu gak mungkin. Gak akan ada yang bisa gantiin kamu di sini, di hati Ines," ucap wanita paling muda di antara mereka, sambil memegang dadanya.

    "Aku udah gak punya hubungan khusus sama kalian. Jadi tolong, saling mengerti, saling mengikhlaskan."

    "Gak setuju aku, Ar!"

    "Gak bisa! Kamu harus balikan lagi sama aku titik!"

    "Ines susah ngelupain kamu, Beib."

            

                                                          SABAR 
              Lelaki itu terus mengurut dada, hingga para mantan keluar dari tubuhnya.


Bandung Barat, 2017


Friday, 21 April 2017

FlashFiction; Usai Kutembak

Usai Kutembak



    "Kita bukan pelangi yang hanya melukiskan kenangan, ingat? Kita adalah sepasang kertas dan pena yang akan selalu menuliskan cerita," tangan wanita di depannya digenggam, dengan harapan itu dapat mencairkan suasana yang sedari tadi membeku, tapi wanita di depannya tetap diam.

    "Aku mohon jawabanmu, Cut. Sepatah atau dua patah kata. Jika kamu diam, batu pun diam. Tapi aku tak suka batu, yang aku suka cuman kamu."

    Masih saja hening itu melatar belakangi keadaan mereka berdua.

    Lelaki itu terus menatap wanita di depannya, dengan harapan ada jawaban atau apa pun yang menunjukan bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

    Namun tetap saja, tak ada sepatah kata pun yang bisa didengar. Langit mulai menghitam lelaki itu mulai jengah, atas pupusnya harapan.

    "Jika tak ada cinta untukku, baiklah aku akan pergi selamanya dari kamu." Dia pun memeluknya.

    "Hah? Basah?" ditatapnya lengan yang berlumuran darah.


Rahmat Hidayat >> FIKSIMINI KITA
    USAI KUTEMBAK - Aku terus menunggu jawabanya dengan cemas. Gebetanku masih saja membisu, dengan luka di dadanya.


#Ar_rha

Wednesday, 5 April 2017

FlashFiction; Janjian


 Janjian


   Wanita berambut hitam itu terlihat sangat resah saat duduk di dalam angkot. Dibacanya berkali-kali sms dari sang kekasih. 'Aku tak boleh terlambat' bisiknya dalam hati.

    'Sial macet!' Kutuknya dalam hati. "Bang kiri," dia segera turun, membayar ongkos lalu berlari sekencang yang ia bisa. Beberapa kali tubuhnya bertabrakan dengan orang-orang di sana, hanya kata maaf tanpa memperhatikan wajah-wajah yang ditabraknya. Banyak di antara mereka menatapnya dengan aneh, tapi wanita itu tak peduli.

    Akhirnya sampai, diliriknya jam ditangannya lalu berjalan perlahan ke sudut taman itu. Di sana seseorang telah menunggunya.


JANJIAN - "Maaf aku terlambat, beberapa menit," ucap wanita itu di depan fosil seorang laki-laki.

Tuesday, 4 April 2017

FlashFiction; Sepasang Mata di Atas Kasur

Sepasang Mata di Atas Kasur


    Kubuka mata meski enggan. Dengan malas kutatap jam dinding di tembok kamar.


   "Baru jam dua," kembali kupenjam mata ini.


   Terdengar suara barang berjatuhan dari luar kamarku. "Paling tikus," pikirku.


   Ngeekk ...


   Meski takut, kuintip siapa gerangan yang berani masuk ke kamarku.


   Sesosok tubuh tengah berdiri di dekat lemari baju. "Paling teman atau saudaraku yang iseng," mataku memperhatikan ke bawah. "Alhamdulilah, kakinya masih menempel," kupindahkan arah pandangan ke mukanya.


   "Astaga, wajah itu ternyata ...."



                                                 SEPASANG MATA DI ATAS KASUR

                                                 Ketakukan menatap tubuhnya tanpa mata.

FlashFiction; BENSINNYA BOCOR

BENSINNYA BOCOR


"Kang! Keren motornya."

"iya, Den. Over kredit ieu ge, hehe."

Deni membalas senyumku lalu pergi.


"Kinclong!" kupakailah si ninja baru ini jalan-jalan berkeliling kampung, sekalian test drive.


"Kang! Bensinna bocor." kaget, aku segera turun dan memeriksa motorku.


"Ya Allah," kulihat sepanjang jalan yang dilalui tadi tercecer cairan berbau sedikit menyengat itu. 


"Untung keburu ketahuan."


"Iya, Kang."


Tangan kanan Deni masuk ke dalam saku, mengambil korek, sedangkan tangan lainnya menyimpan rokok ke mulutnya.
.
Tak sempat  kucegah, Deni sudah menyalakan korek dan otomatis bensin yang tadi bercecer di sepanjang jalan ikut terbakar.


Kami berdua menjauh dari motor, sedangkan api dengan cepat membakar aspal, merembet hampi ke motor ninja, dan ... dan ....



BENSINNYA BOCOR  Panik, motor ninja itu meloncat ke dalam kolam ikan.

Monday, 20 March 2017

fiksimini; KISAH SEPASANG MERPATI

KISAH SEPASANG MERPATI



JANJI SETIA - Kedua merpati itu mematahkan sayap, lalu berjalan berdampingan. Kini mereka hidup di antara kita, sebagai manusia.

DIANGGAP GILA - Mereka memunguti remah-remah di jalanan. Kebiasaannya masih tak dapat dihilangkan.

SEBUAH KEPUTUSAN - "Aku harus pergi, agar kita lebih bahagia," | "Kau harus belajar lebih baik untuk jadi seorang di sana,"

BUS KOTA - Perjalanan harus diteruskan. Meski tadi malam bus yang lelaki itu naiki terbakar.

PENANTIAN - Sudah tiga tahun wanita itu duduk di bangku terminal. Menanti seorang laki-laki yang telah mengambil hatinya.


#Ar_rha
@Ardian_handoko
Bandung Barat, 2017

Wednesday, 8 March 2017

FlashFiction; Cerita Masa Lalu.


Cerita Masa Lalu.

Aku masuki buku diary yang dulu kita tulis bersama, dan kini sulit rasanya menemukan jalan keluar.


(Prosais)

    Aku kembali menemukannya, sebuah tugu yang mengabadikan kisah kita. Sejujurnya aku tak sanggup membacanya hingga akhir, karena setiap kalimat yang terukir, mengandung magis yang membuatku masuki alam yang telah tertulis takdir.

    Dada berdegup, diri gugup, dan bibir ini mengatup.

***

     Aku kembali ke sini. Melihat kau dan aku (beberapa tahun silam) sedang menikmati langit, dengan burung lalu lalang. Menarik nafas dalam-dalam; mencoba menetralisir getaran di dalam dada. "Oh, indah bukan kasih? Hmmm, kamu tahu gak apa yang tak pernah terhitung di dunia ini?" kau hanya tersenyum, dilanjut menggelengkan kepala. Matamu menatapku penuh tanya, berbicara tanpa kata. Meminta sebuah jawaban, dari apa yang tadi aku lontarkan.

     "Yang tak pernah terhitung di dunia adalah banyaknya bintang di langit, berapa luasnya jagad raya dan rasa cintaku padamu." Bola matamu berbinar, dan tangan kanan yang halus itu mencubit lenganku.

     "Gombal!" ucapmu sambil menjulurkan lidah, namun aku tahu. Senyummu begitu merekah dalam jiwa. Kau lanjut menyandarkan kepala ke bahuku, dan tangan kiriku merangkul pinggangmu.



     Hitam sekejap.

     Di tempat berbeda, kau dan aku berada di perpustakaan. Melukis cerita dalam sebuah buku, diselingi tawa. Menambahi tulisan dengan kata-kata memuja. Menulis hal kecil dan konyol yang kita lewati, menempel puisi-puisi, lalu diparagraf akhir menulis titimangsa; berharap ini semua abadi. Kita menyimpan sepasang (kau satu, begitu pun aku) buku ke dalam tas masing-masing.

***

     Terlelap tidak, tersadar tidak. Waktu begitu cepat berlalu, saat aku bermain imaji, masuki kenangan kita berdua.

    Sebagian nyawaku masih berada di dalam diary. Warnanya mungkin memudar, serta menguning. Cover yang mengelupas, tapi tulisan kita tetap saja sama. Mirip seperti namamu yang masih terpahat di sini, di hatiku.

Bandung Barat,. 2016

Thursday, 23 February 2017

FlashFiction: Aku Rindu Kamu.

Aku Rindu Kamu.


   Masih begitu lekat dalam ingatan saat pertama kali kita bertemu. Saat itu aku berkunjung pada Nesya--pacarku--tapi setelah bertemu denganmu, rasanya tak ada lagi cinta untuknya, yang ada dipikiranku hanya kamu. Kamu yang memiliki kaki ramping, namun kuat menahan beban berat. Ah ... andai saja aku masih berpacaran dengan Nesya, mungkin saat ini kita masih sering bertemu.

    "Siapa di luar?"
 
   "Aku Ardi, boleh masuk?"

   "Tentu boleh, kemana aja Di, aku kangen," -- lalu Nesya memelukku-- "aku kira kamu gak bakal mau lagi datang ke sini"

   "Iya Nes, aku kangen sama dia, udah hampir enam minggu gak ketemu, jadi maksain deh main ke sini"

   "Dia? Maksud kamu, kamu punya orang yang dicintai selain aku di rumah ini?"
   
   "Iya ada, dia sering ngobrol sama aku pas kamu di kamar, ganti baju, atau apapun yang kamu lakukan saat gak ada di samping aku"

   "Siapa yang berani ngerebut kamu dari aku?! Adik aku? Pembantu aku?"

   "Udah deh ya, aku gak mau debat, udah gak tahan pengen ketemu dia"

   Tanpa permisi aku masuk ke ruang tamu, lalu duduk, ah ... aku melihatnya, dia masih sama seperti dulu, mempesona.

   Lalu dengan tergesa-gesa Nesya mengejarku ke ruangan itu.

   "Kamu harus bilang siapa yang kamu suka! Aku mau bikin perhitungan sama dia!" ucap Nesya sambil menggebrak meja.
 
   "Kamu gak boleh kasar gitu dong Nes, aku tambah gak suka. Kalo kamu mau, kamu bisa jadi pacar kedua, dia gak akan marah kok"

   "Hah? Emang aku segila apa? Sampe mau jadi yang kedua, kamu harus bilang sekarang!!" sekali lagi dia menggebrak meja.

   "Sekali lagi kamu kasar sama dia, aku gak segan-segan tampar atau pukul kamu, aku suka sama dia," ucapku sambil memeluk meja.

   "Kamu itu emang demen bercanda Di, maaf ya aku udah emosi. Akhir-akhir ini aku tersadar, banyak ngelakuin kesalahan sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu lagi"

   "Saat ini aku lagi gak bercanda, sangat serius Nes! Aku mau jadi pacar kamu lagi dengan syarat kamu jagain meja ini ok?!"

   "Oke kalo itu syaratnya, aku akan lakukan asal kamu jadi pacar aku lagi. Karena cinta ini udah terlalu menyiksa saat kita gak ketemu"

   Semenjak saat itu, selingkuhanku selalu menjaga pacar terbaikku.
Bandung Barat 2017
AKU MERINDUKANNYA.
Saat bertemu, aku langsung memeluk meja di ruang tamu.
"Kamu udah gila?" tanya selingkuhanku.
Bandung Barat 2017

FlashFiction: Saat Kekasihku Melepaskan Jaket

Saat Kekasihku Melepaskan Jaket



   Seperti malam minggu biasanya, kaum muda-mudi seperti Joni. Pasti pergi ke rumah sang pacar, istilah bekennya sih, apel.

   "Dek, aku di depan." Smsnya pada Tika.


   Pintu kosan pun terbuka, "Masuk, Bang." Dan tanpa basa-basi lagi lelaki itu pun masuk ke kamar yang ukurannya tak terlalu besar. 


   "Ga ada apa-apa, Bang. Maaf iia," ucap Tika sambil menyimpan teh manis dan beberapa toples makanan ringan di atas meja.


   "Nyantai aja kali, Non. Gak usah repot-repot, keluarin aja semuanya," dengan kelakar yang khas, Joni menggoda Tika.


   "Dasar si Abang!" ucap gadis itu sambil mencubit tangan sang kekasih.


   "Abang cuman bawa ini," lelaki cungkring itu lalu mengeluarkan martabak dari tasnya.


   "Ih Abang ... makasih ya. Silahkan Bang diminum tehnya, mumpung anget."


   "Iya, Neng"


  "Itu jaketnya basah ya, Bang? Buka aja dari pada masuk angin."


   Jono pun menurut, tapi seketika tubuh Tika jatuh. Tak sadarkan diri.




Bandung Barat, 2017

Monday, 13 February 2017

FlashFiction: Meja Kuno



 Meja Tua.



   "Hanya ini yang tersisa," ucap Rindu kepadaku saat menunjukkan meja kuno bercorak ular yang telah sedikit menghitam. Hanya ini harta terakhir yang tersisa. Semua isi rumahku yang lain hangus terbakar.

   "Kita bisa memulai semuanya dari awal, Sayang," senyum palsu kubuat, pura-pura tegar dihadapan Rindu.

   "Iya Bang, Rindu mengerti," lirihnya.

   Aku harus memulai kembali semuanya dari nol, dengan berjualan kolak di depan warung Teh Eha. "Mumpung lagi puasa." Rindu menyarankan.

    Namun hasilnya nihil, bahkan modal pemberian Rindu pun mulai habis, padahal itu tabungan orang tuanya.

   "Aku malu sejujurnya, Rin, sedikit demi sedikit uang kamu habis," kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku menunduk malu.

   "Tenang aja Bang, enggak usah khawatir. Aku ikhlas kok." Dia memegang tanganku.

   "Tapi aku jadi enggak enak sama almarhum ke dua orang tuamu, Abang gagal jadi suami," suaraku parau seperti tercekik.

   "Jangan gitu, Bang, mereka udah pasrahin semuanya." Rindu berkata santai, perlahan dia mendekat dan memelukku.

   Tanpa berkata apa pun pada Rindu sebelumnya, malam itu aku menjual meja bercorak, tak tega aku melihat Rindu kedinginan tidur dipost ronda.

   Terjual Rp. 7.500.000,00 "Wah mahal juga," pikirku. Uang ini kugunakan untuk menyewa sebuah rumah selama satu bulan, sisanya biar Rindu yang pegang, aku akan bekerja kembali jadi penambang batu di sungai. Tanpa banyak lama, aku tidur di samping istri.


   Malam itu mimpiku aneh sekali, ke dua orang tua Rindu membentak, mengeluarkan kata-kata tak pantas, dan istriku--Rindu, menangis sambil berkata "Kenapa kamu bodoh Bang, ngejual barang orang tua aku tanpa bicara dulu? Lihat sekarang mereka sangat marah! Abang buat mereka kecewa"--menutup matanya, mencoba menahan tangis--"sekarang aku pamit, mau kembali sama mereka" lalu Rindu dan ke dua orang tuanya berubah jadi ular.

   "Jangan pergi Rindu kumohon," aku berteriak;mengigau. Terbangun, lalu melihat istriku, dia menghilang, benar-benar raib.


Fiksimini;
 MEJA KUNO.

 Dia menangis setelah aku menjual Rindu, apalah daya semua telah terjadi, gambar ular menggigit hatiku.

 Bandung, 30/01/2017
 @Ardian_handoko
 (#Ar_rha)