Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Showing posts with label flash fiction. Show all posts

Thursday, 7 November 2019

FlashFiction; Lukisan Telur


 Lukisan Telur


   "Kak, lukisannya kosong!" Pagi-pagi sekali adikku sudah berteriak di ruang tengah. Malas sebenarnya untuk bangun, tapi teriakan itu terus diulang-ulang.

    Setengah berlari aku menghampirinya, lalu memeriksa lukisan yang terpajang di dinding. Harusnya lukisan tiga telur itu berada di sana, dengan corak asing yang entah apa namanya, katanya ini, dibuat oleh tangan kekasihku, Rini. Kini hanya tersisa kanvas putih menggantung di tempatnya, tanpa garis atau coretan apa pun.

    Akhirnya kami berdua bersepakat mencari ke semua tempat di rumah ini, mulai dari kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga bahkan, kolong-kolong meja dan kursi. Tapi tetap saja kami tak menemukannya, kecuali kulit telur yang telah mengelupas di tong sampah. Aneh memang, bagaimana mungkin sebuah lukisan gambarnya bisa hilang.

    Matahari kini mulai membagikan cahaya kepada seluruh mahluk di permukaan bumi, ayah dan ibu pun kini sudah bangun dan siap pergi bekerja ke kantor.

    "Kalian mencari apa sih? Tumben kompakkaya gituh." tanya ibu setelah menyiapkan sarapan.

    "Telur di lukisan tengah rumah gak ada, Mah."

    "Mamah gak tau," jawab ibu tanpa ambil pusing.

    Tiba-tiba saja, terdengar teriakan ayah yang ketakutan di kamar mandi, "Anak-anak apa Ayah gak salah lihat kalau ada naga di kamar mandi kita?"

    Aku dan adik saling tatap dan terheran karenanya.
Bandung Barat, 2017

Thursday, 10 October 2019

FlashFiction; Badut

 Badut


    Badut itu tampil dengan hidung tomat, rambut warna-warni, serta riasan dan tingkah konyolnya, membuat hari ulang tahun anakku berlangsung meriah. Bibir merahnya sesekali berbicara dengan cempreng, menghasilkan tawa dari bibir kecil anak-anak. Aku hanya memperhatikannya dari jauh, sambil menyediakan makanan serta minuman untuk para tamu.

    Sejujurnya aku trauma melihat badut, setelah apa yang terjadi di waktu kecilku. Namun, perasaan sebagai ibu yang mencintai Diana, anakku, membuat aku harus menekan rasa khawatir serta menyanggupi permintaan untuk mengundang badut ke rumah sebagai kado ulang tahun.


    Beberapa atraksi pun dilakukan badut itu, mengeluarkan burung dari topi, melempar bola-bola plastik, hingga pada akhirnya, dia meminta salah satu anak kecil itu untuk maju menjadi relawan.


    “Adek-adek, siapa yang mau bantuin Om Badut?”


    “Saya, Om.” Seorang anak laki-laki mendaftarkan diri, sambil berdiri.


    Anak kecil itu disuruh memegang apel di atas kepalanya dan sang badut mengambil ancang-ancang, menggumamkan kata-kata aneh, lalu melempar pisau dan ....


    Jleb!


    Tepat mengenai sasaran. Tepuk tangan pun bergemuruh.


    Kini tiba saatnya peniupan lilin ulang tahun, Sang badut sudah kuajak untuk beristirahat, sekalian memberinya uang bayaran, tetapi dia menolak sambil menyuruhku diam di tempat.


    'Mungkin dia masih ingin melihat keceriaan,' pikirku.

    Saat aku berbalik, terdengar jeritan-jeritan. Rupanya, dada Jaki (anak lelaki yang tadi jadi relawan) berlumuran darah, dan kulihat badut itu telah membuka riasannya, wajahnya rata, sama seperti badut yang tampil di masa laluku.


Bandung Barat, 30/08/2017

Thursday, 5 September 2019

FlashFiction; Wanita Penghuni Rumah Indah.



Wanita Penghuni Rumah Indah


   "Rangga ya?" Wanita berparas cantik itu menunjuk sambil tersenyum kepadaku.

   "Iya. Maaf, apa kita pernah kenal sebelumnya?" Kupasang wajah polos. Aku memang tak mengenalnya.

   "Aku Rani," ucapnya sambil menjabat tanganku, "aku kenal kamu dari Anton."

   "Anton yang rambutnya pirang itu?"

   "Yap, betul banget." Senyum terpasang di wajahnya yang ayu.

   Akhirnya kami ngobrol panjang lebar dengan topik yang tak jelas. Tapi, satu hal yang pasti, wanita bernama Rani ini sungguh asik, wajahnya juga terasa familiar.

   Ditemani secangkir kopi latte, kami menghabiskan senja di sudut cafe.

***

    Waktu begitu cepat berlalu saat kami menikmatinya. Jam telah menunjukan pukul 11, tetapi hujan di luar tak menampakan tanda-tanda akan reda.

   "Pulang yu, Ran, aku anterin deh."

   "Emang ga ngerepotin?"

   "Engga, lagian kasiankan cewe secantik kamu pulang malem, mana ujan, sendirian pula."

   Dia menatapku lalu tersenyum, "Oke deh, Perumahan Raja tani ya."

   "Siap, komandan!" Candaku.

***

   Sampailah kami di depan rumahnya, hujan masih tak berubah.

   "Masuk dulu yu, Ngga!"

   "Engga perlu, Ran, makasih."

    "Sudahlah, ayoo," dia menarik tanganku.

 ***
    Rumahnya begitu besar. Setelah masuk, menutup pintu, tiba-tiba ....
    Jlebb!!!

    Terinspirasi dari sebuah Fiksimini

 
WANITA PENGHUNI RUMAH INDAH

Aku mengingat dia, setelah belati yang kugunakan membunuhnya, menancap di dadaku



Bandung Barat, 2017

Thursday, 29 August 2019

FlashFiction; Wanita Paruh Baya itu Menjerit

Wanita Paruh Baya itu Menjerit



   "Enak, Bu, dagingnya." Yosi begitu lahap memakan apa yang terhidang di meja makan.

   "Makan yang banyak, Nak," ucap ibunya sambil mengecup rambut gadis itu, lalu duduk berhadapan di ruang makan yang sedikit gelap, langit-langit rumahnya sudah ada yang bolong-bolong dimakan rayap, maklum rumah tua.

   Tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua, yang terdengar hanya dentingan suara piring dan sendok beradu.

   Selesai makan, ibu dan anak itu saling berpamitan untuk tidur.

***

   Seperti biasa, kegiatan sang ibu pagi-pagi setelah menyiapkan sarapan, segera masuk hutan, mencari buruan untuk mereka makan. Sedangkan si gadis, membereskan rumah, dan segala perabotannya.

   Rumah mereka terpencil, desa terdekat bisa ditempuh sekitar dua atau tiga jam perjalanan. Itulah sebabnya mereka terbiasa hidup mandiri.

***

   Hari mulai senja, saat wanita yang mulai beruban itu menginjakan kaki di pelataran rumahnya.

   "Bu, bolehkan Yosi mambantu? Bersihin daging hewan buruan yang ibu bawa?" Dari dalam rumah Yosi menyambut kepulangan ibunya.

   Wanita berusia hampir setengah abad itu hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepala.

   "Ayolah, Bu," rengek Yosi, "biar nanti kalo sudah punya suami, masakan Yosi bisa seenak masakan ibu."

   "Lain kali saja ya, Nak," bisiknya, "jika ingin membantu, siapkan air panas saja buat ibu mandi nanti," ucapnya sambil mengelap keringat di dahinya.

   Sang gadis dengan muka masam mematuhi perintah sang ibu.

   Wanita itu pun segera mencuci daging di halaman belakang, di sana terdapat bak untuk menampung semua sampah, dia sungguh wanita perkasa.

***

   Malam ini gelapnya langit terasa aneh, begitu mencekam. Seakan ada gemuruh amarah yang terselip di atas awan.

   "Cepat tidur, Nak. Mungkin sebentar lagi badai akan menerjang gubuk kita." 

   Tanpa diperintah lagi sang gadis pun cepat-cepat naik ke kamarnya.

***


   Tengah malam, saat Yosi sedang nyenyak tertidur. Tiba-tiba sepasang tangan mencoba menutup mata Yosi, dia berusaha teriak, namun ada tangan lain menyumpal mulutnya.

    Entah ada berapa pasang tangan yang berada di tubuhnya, empat, lima, atau mungkin sepuluh. Yosi tak tau, yang jelas ada banyak tangan yang meraba, mencubit setiap inci kulitnya, lalu menyeret tubuhnya.
   'Apa yang ingin mereka inginkan dariku,' jerit Yosi di dalam hati.



   Terinspirasi dari sebuah Fiksimini

Seorang Wanita paruh baya menjerit.

Melihat anak gadisnya tergeletak membiru di antara tangan para korbannya.

Bandung Barat, 2016

Thursday, 26 April 2018

FlashFiction; Senja Di Tepi Pantai

Senja mulai merayap mendatangi kami. Sudah sedari pagi kami bermain-main di pantai ini. Pasir putih, angin, debur ombak dan segala hal yang indah. Kami melakukan banyak hal di sini.


Kini jingga telah lahir, memaksa kami sekeluarga harus segera berkemas untuk pulang. Liburan yang sungguh berkesan, hingga dengan berat hati kami tinggalkan.


Raut-raut kekecewaan terpancar dari wajah kami. Namun adik bungsuku yang terlihat paling sedih. Sebagai Kakak yang baik, aku mencoba menghiburnya, "Jangan terlalu sedih, Dik. Semoga saja, nanti Ayah punya waktu lagi, hingga kita bisa kembali berkunjung ke tempat ini."



"Bukan masalah itu, Kak."



"Lalu?"


"Aku ... aku tadi tak sengaja menelan ombak."


"Maksudmu?" Segera kulihat laut. Begitu tenang, begitu hening.

SENJA DI TEPI PANTAI - Kami sekeluarga cemas, adik belum bisa mengembalikan ombak.
2016

Wednesday, 27 December 2017

FlashFiction; Kudeta

Kudeta


    Cerawat  bersinar  meninggalkan jejaknya di langit malam, memberikan pesan, sedang terjadi hal yang tak beres di istana. Aku bergerak cepat, menuju pagar rumah warga, tempat penitipan kuda. Berpijak pada sanggurdiI, lalu segera memacu kuda, meninggalkan pasukan Arkikni --para pengawal pribadiku-- yang beristirahat di warung. Kami baru saja pulang dari kerajaan Ganggula, untuk membantu keadaan rakyat di sana yang kekurangan makanan.

   Cahaya dari obor sepanjang rumah menerangi jalan, hingga tanpa kendala, aku sampai di depan gerbang istana.

    Kulihat, darah tercecer mewarnai beberapa sudut tanah yang rengkah karena kemarau. 'Rupanya pemberontak tak berhasil mulus,' ucapku dalam hati.

   "Kemana perginya para pengawal anda, Tuan?"
Para penjaga gerbang yang masih hidup panik, melihat aku berjalan sendirian. Mereka tak membantu pertarungan di dalam, karena  terlalu berbahaya, jika para pemberontak lainnya bisa menembus benteng dengan mudah..

  "Tuan, jangan pergi ke dalam. Sungguh berbahaya di sana. Biarkan Paduka dan pengawal yang menumpas mereka," ucap yang lainnya. 

   "Tidak mengapa, Mang. Saya bisa menjaga diri." Kulangkahkan kaki masuk ke dalam istana.

   Ayah sebenarnya bukanlah orang biasa, dengan *aji-aji yang dikuasainya, para pemberontak dapat dilumpuhkan. Meskipun beberapa orang kepercayaannya harus meninggal dengan mengenaskan.

   "Maafkan Nanda, Ayah. Telat datang untuk membantu melawan pemberontakan."

   "Rupanya kau sudah sampai. Harus ayah katakan, ada beberapa abdi yang berkhianat. Sebagian dari mereka telah menghabisi orang-orang kita yang berkerja di dapur, karena merekalah yang pertama tahu soal kudeta, tapi syukurlah, **Sang Hyang Widhi masih memberikan ayah dan yang lainnya keselamatan."

   Hatiku yang semula panas, menjadi adem karenanya. Melihat peluh yang menetes dari kening ayah, serta mendengar para koki dan abdi dalem banyak yang terbunuh, membuatku berinisiatif masuk dapur, membawakan air untuk mereka.


   Ayah dan para pengawal yang masih hidup, langsung meminum air yang kubawa. Tak berselang lama, terdengar jeritan-jeritan dari luar istana, bahkan mereka -- ayah dan para pengawal-- terlihat pucat dan berjalan sempoyongan.

   'Rencangan cadangan rupanya berhasil dilaksanakan,' ucapku sambil berpura-pura menangis di depan ayah, sambil menunggu pasukan Arkikni dan rakyat Ganggula yang memilih mengabdi padaku.

Bandung Barat, 14092017

Catatan;

 * benda atau mantra yang dijaga dan dirawat secara baik karena dianggap dan dirasakan memiliki kekuatan gaib

** Sang Hyang Widhi (disebut juga sebagai Acintya atau Sang Hyang Tunggal) adalah sebutan bagi Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu Dharma masyarakat Bali. Dalam konsep Hinduisme, Sang Hyang Widhi dikaitkan dengan konsep Brahman. Dalam bahasa Sanskerta, 'Acintya' memiliki arti 'Dia yang tak terpikirkan,' 'Dia yang tak dapat dipahami,' atau 'Dia yang tak dapat dibayangkan.'

(sumber KBBI dan Wikipedia)


Thursday, 23 November 2017

FlashFiction; Berbagi cerita

Berbagi Cerita


"Di! Apa Pangeran di dalam cerita-cerita itu nyata?"

"Kenapa kamu bertanya soal itu padaku? Aku tak ahli tentang teori-teori fiksi semacam itu."

"Kita bertukar pikiran saja, semacam curhat," Mata kami saling bertubrukan, lalu wanita itu tersenyum.

"Dulu sekali, aku pikir Pangeran, Putri-Putri cantik raja atau para kurcaci itu hanyalah khayalan para penulis, tapi semenjak mengenalmu, aku percaya bidadari dan semua tokoh fiksi itu nyata."

"Apa ini gombal, Di? Kamu gak pernah berubah, masih saja kaya dulu."

"Itu harus," -- kualihkan pandangan menuju jam di dinding kamar -- "bisa kau persingkat cerita tentang Pangeranmu, Putri? Aku sudah teramat mengantuk."

"Dia baru di halaman 32, Di. Sebenarnya aku sudah bosan menunggu hari dimana dia menciumku, lalu kami menikan dan hidup bahagia selamanya."

"Sabarlah, Putri. Doakan saja semoga penantian dan kesabaranmu berbuah manis. Aku sudah mengantuk. Selamat malam, Putri."

"Malam kembali, Di. Mimpi indah."

Kututup buku, lalu beranjak pergi untuk tidur.

.
BERBAGI CERITA
 Dengan sabar aku mendengarkannya dari luar buku.

Thursday, 19 October 2017

FlashFiction; Senyum Penjual Kopi

    "Kita ke pergi Sam. Ayo!"

   "Ke mana?"

   "Warung kopi. Kita cek kasus kemarin."

   "Hah? Apa kau tak salah?'

   "Kudengar, tempat terakhir yang dikunjungi mayat-mayat itu. Sudah jangan banyak tanya!"

    Salah satu kota di Jawa Barat yang sedang kutempati ini, biasanya terasa damai dan tenang. Namun, sudah beberapa minggu ini, kepolisian selalu menemukan mayat di pinggir jalan dengan mulut berbusa. Over dosis! Yap, itu juga yang pertama kali kupikirkan, tapi anehnya, saat mereka --tim khusus devisi kami-- memeriksanya di lab, mereka sedang tak menggunakan zat adiktif macam apa pun. Aneh bukan? Dan Sebagai Intel, kami diperintah untuk memastikan apa yang telah membuat mereka mati dengan keadaan itu.

   "Jika kita berhadapan dengan narkoba jenis baru, sungguh tak etis rasanya diedarkan di warung kopi. Jangan bercanda kau!"

   "Maka dari itu, mari kita pastikan," dengan nada yang sama-sama sewot, dia menenangkanku.

   Kami berjalan menuju warung kopi. Beberapa menit pun berlalu, kami sudah sampai di tempat yang dituju. Sangat sederhana dan sangat jauh dari apa yang aku bayangkan. Beberapa orang sudah terlihat asik mengobrol di sana.

   "Kopi, Kang?" ucap si teteh penjaga warung, sambil tersenyum manis, menyambut kami. Kuperkirakan wanita itu baru berumur 25 tahun.

   "Kopinya dua," kami pun segera duduk di bangku paling pojok. Aku mulai menyalakan alat untuk merekam semua percakan sebagai bukti, dalam tas kecil yang kubawa.

   Entah kenapa, aku merasakan sansasi mabuk saat baru saja terduduk di sini, padahal  belum ada satu makanan atau minuman masuk ke mulutku. Orang-orang di sampingku telah berbicara dengan begitu melanturnya. Tapi, tak ada satu botol pun minuman yang memabukan di atas meja. Apa jangan-jangan ....

   "Ini, Kang, kopinya dua," setelah menyimpan kopi di atas meja, wanita itu kembali tersenyum. Buru-buru kuminum kopi itu, berharap dugaanku kali ini salah. Tetapi aku malah merasa semakin mabuk karena meminumnya.

   "Kau tak apa, Sam?"

    "Pikiranku merasa melayang," kurasakan tubuh ini hampir rubuh.

   "Kenapa, Kang?" sedikit panik, wanita penjaga itu pun menghampiri kami lagi.

   "Tak apa," ucapku meyakinkan, dan wanita itu kembali tersenyum ke arahku.

   Badanku mengejang, kurasakan busa mulai naik ke tenggorokan, lalu perlahan menyebar di mulut. Dalam kesadaran yang tinggal sedikit, kuingat lagi senyuman wanita itu, senyuman yang memabukan.

Bandung Barat, 2017

Saturday, 7 October 2017

FlashFiction; Hujan Darah bulan Agustus .


    "Lihat! Hujan ini merah!" pekik Gajuz di depan istana. Dua orang teman menghampirinya, lalu menatap tetes-tetes yang turun dari langit.

    "Ini darah!" teriak Nanas. Mereka semakin penasaran saja. Bahkan, Budiana sempat mencicipinya.

    "Benar ini darah. Mungkin karena awan terlalu banyak menangis," Budiana mengutarakan pendapatnya. Setelah itu mereka mengucapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

    Di luar gerbang, aku memperhatikan mereka yang takjub dengan hujan bulan agustus kali ini.

    "Dahulu, tanah ini dibayar dengan banyak darah pahlawan. Hari ini dan esok. Kita akan basahi lagi dengan darah para koruptor!" gumamku sambil mempersiapkan semua alat untuk menculik tiga orang dalam istana. Nanti malam.
 

Bandung barat, 2017

Thursday, 5 October 2017

#FFKamis-Lelaki Lupa Diri

 Lelaki Lupa Diri


   Kakinya terus mengukur jalanan, tak peduli malam. Lelaki itu memang lupa diri, lupa segala hal tentang masa lalu, tentang kota ini dan dirinya sendiri.
 
   Gerimis yang turun, melunturkan tinta ingatannya. 'Apa yang telah terjadi? Siapa aku? Siapa ayah dan ibuku? Bagaimana aku bisa ke kota ini?'
 
   Hujan semakin deras, mirip pertanyaan di kepalanya yang terus merengek meminta jawaban. 'Namun harus kucari kemana jawaban? Sedangkan pikiranku entah di mana.'
 
   Gedung-gedung tinggi, taman kota serta nama-nama jalan tak memberinya ingatan apa pun. Hingga di suatu genangan, dia mencoba berkaca.
 
   "Sial! Bahkan air tak mengenalku. Buktinya tak terlihat pantulan wajah siapa pun di sana."

Bandung Barat, 2017 



Hasil gambar untuk sketsa hujan dan genangan
Pict by google

Tuesday, 3 October 2017

FlashFiction; Wanita

Gara-gara Tersenyum


   Ini sudah jam sepuluh pagi, tapi matahari masih saja gelap. Bukan karena awan atau hujan. Penduduk mulai cemas, sedangkan di media-media elektronik, para pakar sudah mulai asik mengucapkan kemungkinan-kemungkinan. Ada yang menyebutkan, karena matahari tertutupi planet baru, kehabisan helium, bahkan yang paling gila, ada yang menyebutkan gara-gara PLN telah memutus aliran listrik ke sana, karena malaikat sudah dua bulan menunggak.

   Semua orang panik. Mereka berdiam diri dengan orang-orang yang tercinta, bahkan yang lainnya telah menyiapkan diri dan menyatakan ini kiamat. Yah semua diam dengan ketakutan, kecuali satu orang wanita yang berjalan menuju taman kota. Mata-mata cemas mengintipnya dari jauh, berharap dia tidak frustasi dan gantung diri.

    Ternyata dia bertemu dengan seorang laki-laki itu membentaknya, "Apa yang sebenarnya kau lakukan, hah!"


  "Kubunuh matahari kemarin! Karena dia tersenyum kepadamu dan kau membalasnya, aku cemburu!"




Bandung Barat, 09/09/2017

Foto
Pict By google+


 

Selamat Datang Di Neraka.

   "Bagaimana? Kau maukan bercinta denganku?" Wanita berkulit putih menarik tangan Samsuri ke kamar. Lelaki berperawakan gemuk itu mengikut saja, seperti anak bodoh, disuruh ke depan kelas.

   Kenanga mulai membuka baju, hingga terlihatlah apa yang membuat mata kaum adam *terbelalak. Dia mulai naik ke ranjang, diikuti Samsuri dengan penuh nafsu.


   Mereka berpangut, desah-desah nafsu yang menggebu, juga tangan yang mulai terbang ke berbagai 'benda' makin menghilangkan kesadaran. 


   "Aku buka, ya, Sayang?" Tangan lentik kenanga mulai menurunkan celana dalam Samsuri. Lelaki itu menutup mata dan ....
Srett!!
Darah berceceran, belati yang dari tadi diselipkan di jaket itu kembali mendapatkan mangsa.


   "Yah, putus, Sayang. Gak jadi, ya? Abis kamu kaya lelaki penjahat yang dulu perkosa aku sih!" ucap Kenanga sambil membersihkan belati. Wanita itu kembali memakai baju, lalu keluar dari kontrakan Samsuri. Membiarkan si lelaki kesakitan, setelah burungnya terbang.



Bandung Barat, 09/09/2017



 Celengan

     Seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Aku ingin kisah ini menuju jenjang pernikahan. Sadar bahwa tak mungkin membebani orang tua, untuk semua biaya resepsi. Aku mulain menabung di satu tempat yang orang lain tak dapat mengetahuinya.

    Aku hendak melamarnya hari ini, setelah kupikir, uang tabungan cukup untuk membiayai semuanya. Meski kusadari, akan seadanya.

   "Aku mencintaimu, Dik. Maukah kau menjadi istriku?" ucapku tanpa basa-basi lagi, sesaat setelah dia datang ke taman ini.

   "Apa ini bercanda? Bukankah kita telah sepakati, Kak. Kita hanya teman istimewa, bukan sepasang kekasih!"

    Jadi selama ini? Perlahan, terdengar gemerincing suara logam berjatuhan. Uang yang selama ini kusimpan, berloncatan dari dadaku yang retak.




Bandung Barat, 09/09/2017



Kangen 

    Setangkup rindu membungbung di udara. Asapnya berwarna abu pekat, begitu menghalangi pandangan. Air mata pun mengalir, menganak-pinak di pelupuk Dani. Baginya, dunia kini hanya hitam dan putih, warna-warna hilang bersama kenangan, terkubur bersama jasad istrinya.

    Ditatapnya foto usang yang tergantung di kamarnya, ruangan yang dia tempati seperti menyedotnya jauh pada waktu-waktu silam. Seorang wanita duduk di sofa empuk buatan luar negeri. Matanya yang biru menatap lelaki gagah berkaca mata dengan penuh cinta. Ruangan putih itu terasa penuhi motif bunga mawar. Benar kata pujangga, cinta itu gila.

   Dia berjalan menuju pintu dapur, setelah berhasil keluar dari kenangannya sendiri. Menghangatkan makanan yang dibuatnya tadi malam. Makanan kesukaan sang istri, yang selalu membuatnya terkenang. Dia sangat hapal wangi rempah penuh kenangan. Segelas air putih, sepiring nasi dan rendah istimewa telah terhidang di meja.

   "Tuhan, berkahi makanan yang terhidang ini. Segera pertemukan aku pada kekasih hatiku, aaammiiin." Doanya selesai. Dilahapnya makanan itu dengan tenang dan hikmat.

   Tubuh lelaki itu mulai kejang, busa perlahan keluar dari mulutnya. Pandangannya samar. Ruangan itu kembali dipenuhi motif bunga. Dia tersenyum, racun yang tadi malam dimasukannya ke dalam makanan telah mengantarkan lelaki itu pada kekasihnya.


Bandung Barat, 09/09/2017



Foto
Pict by google+