Showing posts with label #NAD_30HariMenulis2020. Show all posts
Showing posts with label #NAD_30HariMenulis2020. Show all posts

Thursday, 25 February 2021

Cerpen: Kanvas-Kanvas Baru

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_7
#NomorAbsen_302
Jumkat : 550 kata


Kanvas-Kanvas Baru


    Aku benci sekolah. Tugas yang menumpuk, teman-teman yang berperilaku buruk, juga banyak hal lain yang selalu memberatkan pikiranku. Lebih baik aku di sini, di kamarku yang sempit ditemani kanvas, cat air, dan kuas.

    Aku benci sekolah. Mendengarkan penjelasan dari guru tentang hal-hal yang tak akan begitu berguna di kehidupanku. Menyuruhku mengingat nama-nama aneh dari negeri jauh, istilah-istilah yang tak bisa kupakai dalam percakapan sehari-hari, dan rumus-rumus yang bahkan ibuku saja sudah tak ingat untuk apa. Lagipula, aku sudah dicap sebagai pembuat onar yang tak memiliki masa depan, jadi untuk apa kuteruskan bertahan?

    "Suatu hari nanti, kamu akan membutuhkan ilmu-ilmu itu, Mas," ucapan seperti itulah yang selalu diulang-ulang ibu.

    "Bodo amat!" Ingin kuteriakkan kalimat itu, bukan hanya pada satu, dua, atau beberapa orang. Aku ingin mengucapkan kalimat itu pada dunia. Di sekolahkan pun, aku akan tetap bodoh tentang angka, tentang bahasa, atau membuat benda. Semua pelajaran itu mengalir saja di kepalaku, tanpa mau --setidaknya-- diam, atau membasahinya meski sebentar.

    Jadi wajar saja aku selalu dikucilkan dan tak memiliki teman. Aku memang tak berguna.

    Seringkali aku ditegur karena tak memerhatikan dan lebih asyik membuat gurat-gurat tak menentu di atas kertas. Mengangkat sebelah kaki sambil menjewer telinga adalah hal biasa. Bagiku, itu lebih baik dibanding menatap gerakan dan pembicaraan monoton guruku.

    Tak ada komunikasi, tak ada perbincangan dua sisi. Hanya pembelajaran satu arah yang membosankan. Mirip seperti menonton sinetron yang telah diputar berulang-ulang. Tidak menarik.

    Hingga suatu hari, datang seorang guru nyentrik yang tiba-tiba saja masuk ke kelasku. Menghipnotis semua murid dengan auranya yang seperti teman lama.

    Gerimis bulan juni datang berkunjung. Memaksa kami --para siswa-- harus lebih merapatkan jaket untuk menghilangkan gigil.

    "Selamat siang, Anak-anak. Perkenalkan nama saya Rendi, guru baru kalian di bidang seni. Mohon bantuannya untuk beberapa bulan ke depan."

    Seketika, hening hinggap di telingaku. Kelas ini rasanya sudah pindah dimensi. Tak seperti biasanya.

    Lelaki itu lalu tersenyum, mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas, lalu memejamkan mata sebentar sebelum melanjutkan berbicara.

    "Ada yang suka dengan drama, alat musik, atau melukis?"

    Masih tak ada jawaban. Aku yang biasanya lantang untuk berbicara, kini seperti macan kehilangan aumannya.

    "Baiklah, jika tak ada yang mau berkata." Guru itu menghampiriku, menyerahkan lembar-lembar kertas untuk dibagikan, lalu mengucapkan kata tolong yang terasa begitu lembut. Dan, bodohnya aku yang mengikuti perintahnya.

    Belum selesai aku membagikannya, beliau malah berkata dengan tegasnya. "Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Jadi, untuk kalian, kanvas-kanvas baru. Camkan ini. Jangan takut untuk salah, jangan takut untuk melangkah. Jatuh, bangun lagi. Tersungkur, bangkit lagi. Sangat manusiawi jika takut gagal dan kadang kehilangan harapan. Namun, di dunia ini tak ada manusia yang gagal. Prinsip, motivasi, kerja keras, dan tujuan yang hendak dicapailah yang membedakan."

    Aku tertegun sejenak. Kata-kata itu seperti meresap ke dalam kepalaku. Menyingkirkan setiap kemungkinan-kemungkinan yang selama ini merundungku. Jika boleh kuanalogikan, mendung yang selama ini mengelilingiku, hilang begitu saja dilahap kata-katanya.

    Segera kuselesaikan tugas dari Pak Rendi, lalu duduk kembali ke bangku paling belakang. Untuk pertama kalinya, aku serasa dilahirkan kembali.

    "Ciyee dapet guru yang cocok. Selamat, Mas," ucap Sardi menggodaku.

    Kutatap matanya dengan penuh amarah. Awalnya, ia memasang wajah tak bersalah sebelum akhirnya menjadi ketakutan dan menjerit-jerit.

    Semua murid di sini adalah kanvas baru, bukan? Bagaimana jika kubuat sketsa di wajah tampannya itu. Kuambil pena di atas meja, lalu menyeringai. Kudengar teriakan di seluruh ruang kelas, sebelum ditenangkan Pak Rendi.

Bandung Barat, 07/06/2020

Saturday, 6 February 2021

Cerpen: Nganjang ka Pageto


Nganjang ka Pageto


    Ke mana angin akan membawa langkah? Ke sanalah aku berjalan. Aku adalah selembar daun lusuh yang tak memiliki apa pun. Memercayakan sebatang ingatan yang menancap di tanah pijakan. Lantana tumbuh di mana-mana, menemani langkah-langkah lemah tanpa tujuan. Teratai membelai-belai mata, memaksa memori mengulum sebuah mimpi yang tak akan terlaksana. Kakiku menginjak kenangan. Ingin kupanggil kembali tahun-tahun silam dan membenamkannya di ujung ragu. Namun, apakah itu semua masih mungkin? Aku tak yakin sama sekali.

    Hanya penyesalan dan air mata yang setiap hari menemani, semakin membuatku tenggelam dalam kesedihan. Hendak kuceritakan pada siapa beban ini? Sedangkan bayangan sendiri pun pergi, saat kubicarakan luka-luka. Saat kamar kubiarkan redup untuk menutupi semua air mata, bayangan yang katanya selalu menemani, nyatanya meninggalkanku. Bagaimana mungkin orang lain akan bertahan?

    Di depan cermin, aku melihat tubuh sendiri. Mata telur ceplok dengan pipi yang sedikit melebar ke bawah, juga hidung yang terlihat seperti daging sisa. Ini aku dan segala yang kumiliki. Jangankan lelaki rupawan dengan harta bergelimpangan, mungkin monyet pun akan berlari tunggang langgang saat berpapasan denganku.

    Hal itu pula yang menyebabkan aku lebih tertarik mengingat-ingat masa lalu, saat tubuhku masih seperti sapu lidi yang bisa kapan saja patah, dibanding sekarang. Dan, kini aku tersadar, bahwa selalu hidup di masa lalu tak akan pernah membawaku ke mana-mana. Bukankah itu sebuah kesalahan yang begitu memuakkan?

    Aku harus memulai dan mengejar banyak hal yang tertinggal. Aku harus memulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu, berbaur dengan masyarakat, mungkin, atau pergi menuju keramaian. Kebetulan beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan tiket museum dari sayembara di sebuah koran. Aku harus berubah. Harus!

    Maka dari itu, hari ini, aku berdoa pada Tuhan, agar semuanya bisa berjalan biasa saja. Agar aku bisa berpikir—setidaknya—sama dengan orang-orang yang seumuran denganku, bukan terus terjebak--dan diputar-putar--di lorong kesendirian yang menyebalkan. Seperti seekor binatang peliharaan yang sedang diajak berkeliling hutan dan tersesat.

    Dan, akhirnya aku terdampar di sini. Menatap sebuah kereta tua usang yang entah apa faedahnya hingga jadi barang museum. Di sebuah papan penjelasan, aku membaca sebuah kalimat yang menarik.

    "Waktu lebih berharga dari uang, karena uang tak akan pernah bisa membeli waktu.”

    Selesai membaca itu, tiba-tiba saja pikiranku serasa ditarik dan dilenturkan layaknya karet. Sedikit mual kurasakan, tetapi ada sesuatu dalam dadaku yang memaksa untuk bertahan. Aku mencoba memegang apa saja yang ada, sembari memejamkan mata.


https://www.pexels.com/photo/woman-s-silhouette-photo-during-sunset-185517/


    “Kita adalah manusia-manusia merugi, Gadis manis. Hidup dari kekalahan dan kepayahan, hanya menunggu jadi abu-abu. Namun, Tuhan tak akan pernah setega itu kepada para hamba. Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"

    Kalimat itulah yang pertama kali terdengar oleh telingaku. Aku belum berani membuka mata, bahkan sedikit saja. Aku terlalu takut saat membuka melihat hal yang aneh-aneh, atau pikiranku yang menjadi aneh-aneh. Tiba-tiba, ada sesuatu yang terasa ingin muntah, keluar begitu saja dari mulutku. Bukan isi perut, tetapi kata-kata.

    "Aku hanya akan diam, menemani batu-batu yang menjulang, dan berlumut bersama.”

    Perlahan, kubuka mata. Aku tak tahu sedang berada di mana, yang terlihat sepanjang pandangan hanya lorong-lorong keabu-abuan, tempat yang teramat asing, tetapi ada sesuatu yang rasanya sangat dekat. Ada sebuah ketenangan yang tak bisa dijelaskan.

    Kursi-kursi dipasang berderet, seperti sedang menunggu kereta, atau angkutan lain yang mungkin akan membawaku ke suatu tempat yang entah di mana. Hanya ada aku dan seorang nenek di sini.

    “Maaf, Nek. Kita berada di mana sekarang?"

    "Di ruang hampa yang sedang kau cari, Nak."

    Ruang hampa? Apakah ini yang disebut kematian? Meski terkejut, aku tidak takut. Toh ada seseorang yang menemaniku di sini. Namun, bagaimana mungkin kematian ditemani? Tak masuk akal sama sekali.

    "Nek, maaf sebelumnya. Anda siapa? Saya siapa?"

    Pertanyaan bodoh! Aku tak berniat mengatakannya, tapi ... tapi ....

    "Kita berdua adalah orang yang sama. Hanya dipisah waktu yang lama. Nak, pernah dengar istilah *nganjang ka pageto? Hari ini, kamu sedang melakukannya."

    "Maaf, Nek?"

    Langit hitam menggulung warna abu-abu yang ada di langit. Sejenak tanah yang kuinjak menjadi asing. Entah itu sensasi, aura atau terserah kalian menyebutnya apa. Namun, beberapa hal yang pasti, aku sedang berada di situasi yang tak baik-baik saja.

    Aku mencoba menelusuri jalan setapak ini, mungkin seseorang sedang diam menanti kedatanganku di ujung sana. Samar-samar terdengar dari jauh derak suara kereta.

    ‘Saatnya pulang.’ Sesuatu yang bukan aku kembali mengutarakan pandapatnya.

Bandung Barat, 17/06/2020

Catatan : *nganjang ka pageto : Pergi ke masa yang akan datang. Istilahnya, mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, atau mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya (Revolusioner)

                *Ditulis untuk (dan sudah) diikut sertakan dalam event 30 Hari Menulis grup Facebook Nulis Aja Dulu

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_17
#NomorAbsen_302
Jumkat : 691 kata

Friday, 29 January 2021

Review Film : Escape from Pretoria (2020)

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_14
#NomorAbsen_302
Jumkat : 485 kata


Review Film Escape from Pretoria (2020)


    Saat Stephen dan aku lulus tahun 1973, separuh Afrika Selatan membara. Polisi menembaki anak-anak kulit hitam seperti kelinci, sementara lainnya meminum pina coladas di pantai khusus kulit putih mereka. Tumbuh besar di bawah Apartheid, artinya pemisahan orang berdasarkan warna kulit mereka. Dan, saat kami membuka mata, realita Apartheid sebenarnya terpampang jelas di hadapan kami.

    Apa yang biasa kami terima, kini kami tolak. Kami tak ingin hidup dibangun dari kebohongan dan kelalaian. Kami ingin bergabung dengan usaha yang ada untuk demokrasi dan membebaskan Afrika Selatan dari diskriminasi ras dan melakukan sesuatu, kata-kata kami tak berarti. Apa yang kami pilih untuk lakukan adalah tindakan paling radikal. Dan, tidak diragukan paling meledakkan. Kami bergabung dengan Kongres anasiaonal afrika yang dilarang, Bersama saudara dan Saudari kulit hitam dan orang asia kami menyebarkan bahwa kebebasan dan kesetaraan bagi seluruh ras harus diperjuangkan tanpa peduli berapa pun harganya. Dan, harganya melebihi dari apa yang kami bayangkan.

    Di adegan awal, dua orang pemuda membawa sesuatu dengan tergesa-gesa. Menyimpannya di antara tumpukan sampah, sambil terus bergegas seolah diburu waktu. Mereka adalah Timothy Jenkin (Daniel Radcliffe) dan Stephen Lee (Daniel Webber). Orang-orang berkulit putih yang mendukung ANC agar kesamaan hak antar ras.

    Setelah satu bom meledak dengan menghamburkan kertas ke udara, mereka berdua berniat kabur. Namun, sebelum itu terjadi, polisi telah datang ke tempat dan memberhentikan mereka.

    Hingga pada akhirnya kedua lelaki itu dinyatakan bersalah pada Juni 1978, di cape town, Afrika Selatan. Mereka dituntun atas tindakan terorisme, tetapi dinyatakan bersalah karena menyebarkan selembaran kesamaan hak antar semua ras. Tim divonis 12 tahun dan Lee 8 tahun. Mereka akan dipenjara di Pretoria. Penjara dengan tingkat keamanan yang sangat ketat.

    Di penjara Pretoria, Tim dan Lee bertemu dengan beberapa narapidana, Denis Goldberg (Ian Hart) yang sudah dianggap tetua memberi masukan pada mereka agar membiasakan diri saja di sana, tanpa perlu berusaha melarikan diri. Namun, Leonard (Mark Leonard Winter) yang punya ambisi yang sama tetap mendukung mereka. Mereka bertiga lalu saling bahu membahu untuk bisa melarikan diri. Untuk kebebasan! Untuk kesamaan hak seluruh manusia!

    Secara alur, film ini terkesan lambat di awal, tetapi semakin cepat menuju akhir. Alur utamanya hanya tentang melarikan diri dari penjara, tetapi beberapa adegan, Rahmat sebagai penonton ikut merasakan ketegangan yang dihadirkan. Keren.

    Sejujurnya, Rahmat penasaran dengan film ini karena nilai historinya. Film ini adalah kisah nyata tentang Tim dan Lee. Sang sutradara, Francis Annan, berhasil menghadirkan kembali ketegangan yang mereka lalui ke dalam film.

    Dibanding membahas jalan cerita, Rahmat lebih tertarik dengan kesamaan hak antar ras. Bukan hal baru memang, tetapi sampai hari ini, deskriminasi antar ras (mungkin) masih terjadi bahkan di antara kita. Rahmat ambil contoh kekejaman Nazi di Jerman atas pembantaian Yahudi dan orang-orang berkulit hitam. Genosida 1994 di Rwanda, dan yang lainnya. Meskipun (katanya) sejarah akan selalu terulang, bukankah alangkah bagusnya jika yang terjadi berulang-ulang itu hanya yang baik-baiknya saja?

    Tim dan Lee adalah contoh, bahwa kesamaan derajat antar manusia tetap harus dilakukan, sebesar apa pun bayaran yang harus dikeluarkan.

Bandung Barat, 14/06/2020

Thursday, 16 July 2020

Cerpen: Bungkam

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_29
#NomorAbsen_302
Jumkat : 478 kata

Bungkam

    Dunia mendadak hening. Hanya terdengar suara deru kendaraan, air hujan yang menyentuh asbes, dan gemeresik dedaunan digoyang angin. Sisanya sepi. Tak ada suara yang dapat keluar dari mulut manusia. Semua mulut kompak bungkam. Hanya terbuka untuk makan atau minum. Sesekali tertawa, meski masih tanpa suara.

    Hari ini kata-kata menghilang, lesap, atau mungkin bersembunyi di liang-liang yang tak terjangkau manusia. Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat mata, tetapi tak menyadari ada keanehan yang terjadi hari ini. Kehidupan berjalan normal saja. Lagi pula, manusia-manusia sekarang terlalu individualis. Tak pernah berbincang, bercengkerama, bahkan sekadar basa-basi pun tidak. Jadi, mereka merasa tak memerlukan kata-kata.

    Seminggu berlalu dengan cepat. Mulut-mulut masih enggan menampakkan kehidupannya. Beberapa orang mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dan merasa masih butuh mengobrol dengan orang lain, membawa kertas dan pena ke mana-mana. Namun, itu hanya segelintir saja, mayoritas manusia masih abai dan merasa tak peduli akan adanya kata atau suara yang keluar dari mulut mereka. Mereka pikir, kebutuhan paling dasar bagi manusia hanya bernapas, makan, minum, dan beberapa hal lainnya. Mengobrol bukanlah suatu kebutuhan, itu hanya variasi. Ada atau pun tak ada, bukanlah sesuatu hal yang harus dipermasalahkan.

    Minggu berkembang cepat menjadi bulan. Beberapa orang –bahkan sekarang kelompok--mulai terbiasa dengan kebiasaan baru, membawa-bawa buku kecil dan pena, yang tentu saja berdampak pada permintaan kertas yang seiring berjalannya waktu terus naik. Para pengusaha berbondong-bondong menginvestasikan uangnya dan membuat pabrik kertas. Penebangan pohon terjadi serampangan, tetapi tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Hutan-hutan menjadi gundul, menyebabkan permasalahan yang menjadi semakin kompleks.

    Kelangkaan air saat kemarau, banjir dan longsor ketika musim penghujan. Semua terjadi di semua tempat. Orang mulai bertanya awal mula segala masalah itu terjadi. Mereka mulai saling menyalahkan dalam hati. Rakyat mencurigai pemerintahan yang—kata mereka—tak dapat mengontrol penebangan hutan dan keserakahan manusia. Pemerintah menyalahkan para rakyat—yang menurut mereka—terlalu boros menggunakan kertas, hingga triliunan uang kas Negara harus dikucurkan untuk menstabilkan harga kertas. Demo terjadi di mana-mana, menyebabkan banyak tempat menjadi arena baku hantam. Tak ada sarana dan prasarana untuk mendamaikan semua pihak. Mereka terus saja saling menyalahkan, tanpa mau mengoreksi diri.

    Namun, mulut-mulut itu masih kuncup saja seperti puteri malu. Masih enggan mengeluarkan suara-suara, bahkan jika itu adalah suara kebenaran. Bisu, kaku dan gagu. Istilah kebenaran dibungkam tak relevan lagi, sebab mulut-mulut itu sendiri yang sudah mogok bekerja.

    Mulut-mulut itu sebenarnya sedang melakukan aksi protes, tetapi bingung harus berkeluh kesah pada siapa. Hingga suatu malam, sebelum aksi diam seribu bahasa itu terjadi, mereka melakukan pembicaraan dari mulut ke mulut.

    Kata-kata dan suara sudah diletakkan pada tempat yang sangat buruk. Orang-orang sudah tak peduli tentang benar dan salah. Yang ada di pikiran mereka hanya uang dan kekuasaan. Jalan apa pun akan ditempuh, asal tujuan busuk mereka tercapai. Saling mencaci, menipu, membicarakan aib-aib orang lain menjadi hal lumrah. Para mulut jengah, lalu menghunuskan perlawanan lewat sebuah kediaman. Mereka akan kembali mengeluarkan suara saat para manusia telah menyadari kesalahannya. Bungkam!


Photo by Oleg Magni from Pexels


Bandung Barat, 29/06/2020

Wednesday, 1 July 2020

Cerpen : Konspirasi

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_30
#NomorAbsen_302
Jumkat : 874 kata


Konspirasi


    Perempuan itu menghisap cerutu yang terselip di jemarinya, lalu mengeluarkan asapnya dalam bentuk bulatan-bulatan. Sudah setengah jam ia menunggu seseorang. Matanya gelisah bolak-balik menatap jalanan yang lengang. Sedangkan senja sedari tadi telah pamit keperaduan. Ia sudah jengah menunggu.

    Orang-orang yang berada di rumah itu mulai berbisik-bisik. Perempuan itu memang terkenal dengan nama panggilan Killer Sang Pembasmi. Ia pernah membantai segerombolan penjahat seorang diri. Dan, satu hal yang terkenal akan dirinya. Mayat-mayat musuhnya selalu hangus terbakar hingga menjadi debu.

    “Terserah apa yang mereka katakan, yang penting bayaran dan pekerjaannya sesuai.” Itu adalah kata yang seringkali ia ucapkan menanggapi lelucon atau gosip-gosip. Perempuan itu sangat acuh dan tak pernah memedulikannya.

***

    Tatanan dunia hancur, saat sebuah virus yang diam-diam dikembangkan oleh sebuah lembaga bawah tanah bocor, dan menyebar lewat udara. Masuk ke tubuh manusia, merusak dan menular begitu cepat, bahkan jika itu tanpa sentuhan atau paparan langsung. Para dokter kewalahan menganalisis dan diperparah dengan tak adanya gejala berarti, kecuali jika sudah merusak beberapa sel dalam tubuh.

    Semua Pemerintah dunia mengumumkan agar tak ada seorang pun yang boleh keluar rumah selama beberapa hari. Bahkan para dokter sekali pun. Mereka yang terjangkit dibiarkan hidup, kesepian, sebelum mati dalam keadaan mengenaskan. Mereka diperintahkan untuk masuk ke sebuah bungker dan menunggu ajal di sana.

    Namun, tidak begitu dengan Dokter Steve. Dibantu beberapa asistennya, ia menampung semua penderita itu di ruang bawah tanahnya, mengobati mereka meski dengan peralatan seadanya, dan terus menyemangati para pasien itu.

    Para penderita itu setiap pagi disuntik sebuah serum yang membuat mereka seperti tersengat ribuan volt, lalu tak sadarkan diri. Mereka tak pernah tahu apa yang dimasukan ke dalam tubuh. Yang mereka tahu bahwa mereka sedang diobati dan ingin disembuhkan. Tidak lebih, tidak kurang.

    Meskipun, hanya dua sampai tiga orang saja yang berhasil selamat, di antara seribu orang. Dan, bagi sebagian orang itu adalah keajaiban. Sebab, semua orang sudah terdoktrin bahwa terkena berarti mati. Tak ada keselamatan lagi baginya.

    Hingga Pemerintah menyatakan bahwa virus itu telah lenyap dari muka bumi. Orang-orang kembali mengerjakan kehidupan normal yang sebelumnya terganggu. Peradaban kembali menuju porosnya. Namun, itu tak berlangsung lama. Sebuah kasus baru yang mencengangkan muncul dan langsung menggemparkan.

    Di sebuah desa terjadi penyerangan yang memporak-porandakan tempat itu dalam beberapa jam. Sebuah kabar burung yang datang mengatakan bahwa itu adalah ulah alien, sebagian lainnya bilang bahwa itu adalah ulah seorang pasien yang sembuh akibat virus itu.

    Hingga kota Santeria ini menggunakan jam malam dan pengecekan ketat di batas kota untuk menghindari kemungkinan terburuk. Bahkan, jika ada yang memaksa masuk, ia akan langsung ditembak di tempat, lalu dibakar di sebuah rumah tua.



Photo by . MCLT from Pexels


***

    Perempuan itu melihat jam di tangannya. Ia menyadari negosiasinya tak sesuai dengan yang diharapkan. Dipanggilnya pelayan, lalu membayar minuman yang telah dipesannya. Memakai jaket dan topi koboinya. Sebelum sampai di depan pintu, pelayan itu memperingatkan bahwa sedang diberlakukan jam malam. Namun ia hanya tersenyum dan berlalu. Meninggalkan rumah makan yang merangkap jadi hotel itu dan keluar lewat jendela.

    Ia berlari di atas genting, meloncat dari satu bangunan ke bangunan yang lainnya seperti sedang *parkour. Memperhatikan situasi sebelum masuk ke rumah yang paling besar. Rumah Wali kota.

    “Maaf, Pak. Sepertinya pembicaraan gagal. Tak ada seorang pun yang datang dari pihak sana.”

    “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Wali kota berpindah tempat dan mulai berjalan mondar-mandir. Merapatkan tangannya, lalu melihat sekeliling. Menunggu jawaban perempuan itu.

    “Bakar seluruh perbatasan. Agar para zombie itu tak bisa masuk ke kota ini.”

    “Itu bisa saja saya lakukan, Ann. Tapi itu terlalu berisiko. Seluruh warga kota akan curiga dengan apa yang terjadi.”

    “Itu terserah Anda, Yang Mulia.”

    Perempuan itu kembali menyelinap keluar, menuju perbatasan kota. Jika ultimatum itu benar, seharusnya para zombie itu sudah sampai ke tempat ini. Namun, tak ada sesuatu yang mencurigakan di sini. Dan, ia mulai berlari dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi tetap saja nihil. Tak ada masalah yang terjadi di perbatasan-perbatasan itu.

    Hingga perempuan itu menyadari ada sesuatu yang aneh di tangannya. Diendusnya pelan dan sebuah siluet-siluet keluar dari ingatannya. Ia limbung, terjatuh dan tak sadarkan diri.

    Sementara itu, kota berada diambang kehancuran. Seluruh perbatasan terbakar, asap mengepul di mana-mana. Dan, para zombie mulai berkeliaran. Bukan masuk dari luar kota, tetapi dari dalam.

    Perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat dari belakang kepalanya saat terbangun. Ia tatap sekeliling yang telah penuh dengan asap pekat. Ia tersadar akan sesuatu dan mulai mempersiapkan senjatanya. Hari ini ia akan berburu zombie, sepuasnya.

    Ia berlari sambil menembak siapa pun yang berpapasan dengannya. Tak peduli zombie atau manusia normal. Ada satu tugas yang perlu ia kerjakan. Ada ingatan yang selama beberapa waktu tertidur dalam dirinya. Maka dari itu ia harus bergegas.

    Dalam ingatannya tadi, ia melihat mayat-mayat bergelimpangan, sedangkan Wali Kota yang sangat ia hormati sedang asyik mabuk bersama beberapa politisi lainnya.

    Maka dari itu, ia dan Sang Dokter akan bertemu setelah kota hancur. Membangun ulang kota ini dengan tangan mereka berdua. Pelayan itu adalah salah satu anak buahnya yang mengoleskan virus di gelasnya. Perempuan itu telah beberapa kali disuntik dengan serum memuakkan itu. Itulah sebabnya ia sudah kebal dan tak menjadi zombie seperti yang lainnya.

    Di sebuah tempat yang lain, Dokter Steve melihat dengan mata berkaca-kaca. Kota yang selama ini dicintai sekaligus dibencinya telah berhasil dimusnahkan. Itu berkat Ann, asisten, istri, juga percobaannya yang telah sempurna.


Bandung Barat, 30/06/2020


    *Parkour (baca: Paar-kuur, kadang-kadang disingkat PK) atau l'art du déplacement (Seni gerak) adalah aktivitas yang bertujuan untuk melewati rintangan dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. Itu berarti untuk menolong seseorang melintasi rintangan, yang bisa berupa apa saja di sekitar lingkungan dari cabang-cabang pohon dan batu-batuan hingga pegangan tangan dan tembok beton yang bisa dilatih di desa dan di kota.(wikipedia)

Tuesday, 30 June 2020

Cerpen : Sebuah Perbincangan

#NAD_30HariMenulis2020

#Hari_ke_20
#NomorAbsen_302
Jumkat : 518 kata


Sebuah Perbincangan


    Kubuka pintu rumah kaca itu dengan dada berdebar-debar, menghirup napas dalam, lalu melangkah hati-hati. Sebab, ada sesuatu yang aneh dengan isi wasiat Ayah. Ada sesuatu tak masuk akal yang harus kukerjakan di ruangan ini. Apa yang harus kulakukan dengan nasi dan lauk pauknya bersama tanaman-tanaman ini? Apa Ayah menyimpan seorang manusia? Perempuan atau laki-laki? Atau jangan-jangan, Ayah menyembunyikan selingkuhannya di sini? Atau jangan-jangan ....

    Pertanyaan-pertanyaan lain terus turun bagai hujan dan aku harus memayungi pikiran agar tak jatuh pada kecurigaan. Semoga prasangka buruk itu tak pernah terjadi, agar sosok Ayah yang kukenal hampir sempurna itu tidak berubah. Agar pandanganku tentangnya tetap saja seperti itu.

    Di mataku, Ayah adalah seorang politisi keren yang jujur, rendah hati, dan ringan tangan untuk membantu sesama. Ia selalu membuka mata dan telinga untuk masyarakat, mengayomi, mendidik, serta merangkul semua kalangan tanpa pandang bulu. Selain itu, Ayah juga seorang kolektor benda antik dan penggila tanaman hias. Meskipun harus kuakui, Beliau terkadang bersikap sedikit aneh dan nyeleneh. Ia kerap memakai celana kolor pendek dan kaos putih saja saat menerima beberapa tamu, menghindari beberapa makanan berbahan hewan, serta yang paling aneh, ia kerap begadang di rumah kaca ini, sebelum esoknya mengadakan rapat. Aku sangat merindukan sosok Beliau.

    Aroma sedap malam menusuk hidungku seperti salam pertemuan. Lampu telah dinyalakan sedari tadi, mataku berkeliling. Barangkali, ada sesuatu yang mencurigakan atau yang akan mengejutkanku. Namun, hasilnya nihil. Semua tempat hanya di isi oleh tanaman, tak ada yang lain. Mawar, melati, sedap malam, dan beberapa tanaman lain yang dibentuk bonsai. Ketika masih hidup, Beliau sering mengajakku ke sini, walaupun tak pernah malam-malam.

    Aku mencoba mengingat-ingat kembali pesan Ibu. “Simpan makanan itu di meja paling ujung di sudut barat, dekat tanaman kantong semar. Jika ada sesuatu yang terjadi di luar nalarmu. Jangan berlari! Kamu harus tetap tenang menghadapinya.”




    Oke-oke. Aku harus tetap tenang. Namun, apa maksudnya sesuatu di luar nalar? Sedikit terburu-buru, menata makanan ke atas meja, lalu kusimpan pantat di atas kursi dari tunggul kayu yang ada di sana, memperhatikan tanaman yang memiliki kantong sebagai ciri khasnya.

    Apa harus, aku isi kantong itu satu-satu?

    “Tak perlu, Nak. Saya bisa makan sendiri. ”

    Sebelum aku menjawab kalimat itu, tiba-tiba saja, kantong-kantong tanaman itu menggabungkan diri menjadi sebuah sosok. Sosok yang tak asing bagi pecinta pewayangan, dengan tubuh bulat dan kulitnya yang berwarna hitam legam. Suaranya terdengar lembut, bersahaja, tetapi kharismatik.

    Andai tak ingat pesan Ibu, aku pasti sudah lari tunggang langgang. Semar di hadapanku hanya tersenyum, membagikan nasi dan lauk pauknya ke atas piring, lalu menyuruhku untuk makan bersamanya.

    Perasaanku kini campur aduk. Takut, khawatir, resah, sedih, dan yang lainnya. Namun, Semar hanya tersenyum saja, sambil menikmati hidangan di atas meja. Aku melihat keteduhan sosok Ayah dari matanya.

    Ia berhenti mengunyah, lalu menepuk punggungku beberapa kali. “*Sing sabar, cing tawakal. Jodo, pati, bagja, cilaka geus aya nu ngaturna. Urang mah ngan saukur dititah usaha jeung narima,” ucapnya menasihati. Sekali lagi, ia menyuruhku makan. Kali ini aku menurut.

    Malam semakin dalam dan gelap. Ditemani salah satu sosok punakawan itu, aku membagikan resah yang ada. Kuceritakan semua kegundahan hati hingga reda. Dan, kami berdua tenggelam pada perbincangan tentang kesedihan, sampai pagi datang menjeda.


Bandung Barat, 20/06/2020

Catatan : *Yang sabar, yang tawakal. Jodoh, maut bahagia musibah sudah ada yang mengatur. Kita hanya disuruh berusaha dan nerima



Cerpen : Perempuan yang Berusaha Tersenyum

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_09
#NomorAbsen_302
Jumkat : 457

Perempuan yang Berusaha Tersenyum



    Aku mematung di depan cermin. Menatap lekat semua yang ada di sana. Mata panda yang jauh dari kata memesona, bibir tipis pucat, juga hidung yang tidak proporsional. Sungguh, lelaki mana yang akan bertahan dengan perempuan macam aku? Mereka hanya memerdulikan kehangatan sesaat, sebelum akhirnya menghilang. Cuih! Dasar bangs*t!

    Kusentuh pipi yang mengembang, mencubitnya, dan membayangkan, seandainya wajahku bisa menjadi tirus. Mungkin, aku akan lebih cantik. Mungkin, akan ada seseorang yang dengan sukarela menjaga, mengayomi, mengasihi, dan mencintai. Menjadi tempat mencurahkan segalanya, hingga jasad berkabung tanah, hingga napas dilumat pasrah.

    Sekali lagi, kutatap cermin itu. Kugerai rambut panjang ke depan dada. Sebenarnya aku tidak seburuk itu, kulitku memang hitam, tetapi saat tersenyum akan lahir lesung pipi yang tampak manis.

    Nyanyian malam keluar dari mulut burung hantu, bulan menggantung lunglai di langit kelam, dan pikiranku mulai bercabang, membayangkan banyak kemungkinan ketika masa muda yang pernah kunikmati tak salah pilih jalan. Seandainya ... seandainya ....

    Khayalku makin tinggi, menyentuh segenap angan-angan yang dulu terlihat cemerlang, sebelum akhirnya jatuh terjerembab di lubang kesesatan. Memang benar, semua kesialan ini akibat dosa yang kulakukan di masa remaja, tetapi tak pantaskah aku meminta sedikit saja keringanan, agar ada bahu untuk bersandar? Atau semua lelaki memang berpikir, perempuan sepertiku adalah mainan yang hanya disayang saat dibutuhkan, lalu mencampakkan saat tak diinginkan?

Photo by Rahul from Pexels


    Ingin aku teriakan segala kekesalan ini, mengeluarkan binatang-binatang dan caci maki. Namun, semua itu tak berguna, semua mimpi buruk ini telah terjadi dan tak mungkin bisa kuulang kembali. Segalanya telah kasip. Sauh telah dilepas, kapal yang kunaiki tak bisa tertambat kembali.

    Suara benda pecah belah berdenting di telingaku. Aku bisa kembali mengingat dengan jelas, bagaimana orang tuaku mengutuk, menunjuk-nunjuk, melempar beberapa benda, lalu mengusirku tanpa sedikit pun rasa menerima. Mereka bilang aku aib. Mereka bilang sebuah kesalahan telah melahirkanku.

    Terdengar dengkuran halus di belakangku, membuat lamunan yang sedang kuselami buyar. Jika bukan karena anak kecil itu, aku mungkin tak akan melalui kesedihan ini seorang diri. Mungkin, aku masih memiliki kehidupan normal. Aku berdiri dan berjalan mendekati ranjang, memperhatikan wajah damainya, menyelusuri wajahnya dengan jari.

    Tadi siang, Jane--anakku--memintaku agar esok datang ke sekolahnya dalam acara “Ayahku Pahlawanku”. Ada yang ingin menyeruak dalam dada. Kuambil gunting di atas meja, lalu memejamkan mata. Aku sudah pasrah atas segalanya.

***

    Pagi mengetuk pintu rumah dengan jemari cahaya. Membuatku terjaga dan membuka mata. Jane menatapku beberapa kali tak percaya. Mungkin, semua perubahan yang kulakukan tadi malam sangat mengganggunya.

    "Ada apa sayang?"

    "Maafkan Jane, Mah."

    Aku memeluk tubuh kecilnya, mencium rambut hitamnya, dan mengelus-elus punggungnya.

    "Bukan salahmu, Nak. Yang seharusnya dimaafkan itu Mamah, karena belum mampu membahagiakanmu. Sekarang kamu mandi ang bersih, kita berangkat ke sekolah sama-sama. Soal rambut Mamah yang dipotong jangan khawatir, Mamah memang sedang ingin mencoba berambut pendek."

    Gadis kecilku termenung sebentar, sebelum memasuki kamar mandi.

Bandung Barat, 09/06/2020



Cerpen : Salah Membaca Mantra

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_25
#NomorAbsen_302
Jumkat : 830 kata


Salah Membaca Mantra


    Kudengarkan derit suara pintu terbuka dari jauh, disusul bunyi derap langkah yang cepat. Kami mencoba berkonsentrasi agar bisa menemukan dari mana arah datangnya. Namun, terasa nihil. Suara yang bergema menjadikannya terdengar seperti datang dari berbagai arah.

    Kami berempat saling membelakangi. Mencoba menembakkan cahaya senter ke depan untuk memastikan, dari arah mana hantu itu datang. Jantungku berdegub cepat, serta deru napas yang sudah tak bisa diatur lagi. Aku tak ingin mati di sini. Tidak!

    Tiba-tiba saja tempat ini jadi hening. Hening yang ganjil. Bulu kudukku meremang, terasa ada sesuatu yang menetes dari atas. Hampir bersamaan, kami mendongak, mengarahkan senter ke atas kepala.

    Rambut panjang yang menjuntai menutupi setengah wajahnya yang rusak. Nanah dan darah menetes tak henti-henti dari bibirnya. Dengan posisi kepala di bawah, hantu itu terlihat siap menerkam. Kami segera berlari ke luar sambil berteriak ketakutan.

    Setelah sampai di halaman, aku menengok ke belakang. Terlihat dua orang yang tergopoh-gopoh mengikuti. Hanya dua orang? Deri ke mana? Aku mengutuk dalam hati. Bimbang, antara menjemputnya ke dalam atau berdiam saja di sini.

    Sebuah teriakan yang memilukan terdengar dari dalam. Aku merasa harus bertanggung jawab pada mereka, sebab ini adalah kesalahanku yang telah mengajak mereka untuk uji nyali di sini. Kutarik napas berat, berusaha menyingkirkan segala ketakutan, lalu mulai melangkah.

***

    Bulan retak tertusuk ranting kering. Pecahan cahayanya berhamburan, jatuh ke setiap tempat yang terbuka. Jalanan sepi, tanah yang lapang, juga rumah tua berlantai dua di hadapan kami. Bintang-bintang menghilang hingga langit terasa lenggang. Dan, di sini. Kami siap mengeksekusi rencana yang sudah matang.

    Kami mengecek peralatan kembali. Senter, kamera, juga menyiapkan beberapa bungkus bunga dan dupa. Malam ini, kami hendak merekam segala aktifitas mahkluk astral di rumah ini, dan membuatnya menjadi konten. Menurut kesaksian banyak orang, rumah di depan kami ini dihuni oleh banyak sosok mahluk, tetapi yang paling terkenal adalah hantu merangkak.

    Awalnya kami tertawa mendengar nama hantu itu. Membayangkannya seperti bayi atau tokoh pahlawan laba-laba. Namun, setelah mendengar penuturan beberapa orang yang telah mencoba bermalam di sana, kami menyimpulkan sesuatu. Bahwa semua akan berjalan menarik.

    Orang-orang menyebut rumah itu vila kenanga. Bangunan bertingkat yang sudah tak terurus itu memang terlihat sangat menakutkan. Bangunannya terbengkalai, rumput-rumput liar tumbuh subur. Berjarak tidak jauh dari perumahan tempat kami tinggal. Berada di sebelah kanan aliran sungai yang cukup dalam dan agak sedikit menjorok ke dalam hutan.


Photo by Mike Yakaites from Pexels


    Kami sekarang sedang berada di ruang tengah. Setelah menyalakan kamera, Deri yang bersila di depan sesajen langsung mengucapkan jampi-jampi yang telah dicarinya di daring, sambil membakar dupa. Angin berembus ganjil, membawa aroma berbagai rupa, menyebabkan aku sedikit mual. Suara-suara aneh mulai bermunculan, hingga bulu kudukku berdiri. Kami berkeliling menyebarkan asap dupa, memancing datang mereka yang tak kasat mata.

    Satria dan Heru terlihat sangat tidak nyaman. Terbukti dengan tangan dan tubuh mereka yang gemetar. Namun, sudah tak ada jalan kembali. Sekarang, kami harus berada di sekitar sini sampai pagi menjelang, sebab ada sebuah pantangan. Mereka yang melanggar itu akan kehilangan salah satu anggota badannya atau menjadi gila, bahkan mati. Maka kami memutuskan, Aku dan Heru di lantai atas, sisanya di lantai bawah.

    Aroma amis menyengat langsung menusuk hidungku saat memasuki lantai kedua. Di sini ada terlihat ada tiga ruangan yang lumayan besar. Semua ruangan sudah tak memiliki langit-langit, debu yang menempel tebal, juga sarang laba-laba. Kami langsung menelusurinya satu persatu. Sedari tadi, aku sudah mengucapkan banyak kata di depan kamera, mendeskripsikan apa yang terasa, terdengar, meski belum ada penampakan apa pun.

    Tiba-tiba Heru memegang ujung bajuku dan menyinari sebuah ruangan paling pojok. Jika dilihat dari tata letaknya, ruangan itu adalah kamar mandi. Sebuah kepala dengan mata yang menyala menyembul beberapa kali, lalu menghilang. Aku berusaha mendekat, tetapi lelaki di belakangku terus menahan-nahan. Mungkin ia takut terjadi sesuatu.

    Setelah menenangkannya, kami berdua masuk ke ruangan itu, memperhatikan sekeliling, dan tak ada apa-apa. Aku menarik napas dalam. Antara bersyukur dan tidak. Hingga suara gemeretak menyadarkan kami, bahwa beberapa hantu melihat dengan mata memburu sedari tadi. Mereka menempel di dinding, mirip seperti cicak dengan kepala di bawah. Belum habis keterkejutan kami, terdengar dari bawah suara teriakan. Membuatku menarik tangan lelaki itu dan segera turun.

    Kami bertubrukan tepat di bawah tangga, terjatuh, lalu berdiri dengan posisi saling membelakangi.

***

    Aku mematung di depan pintu. Sebuah tangan menggapai-gapai lantai kayu sebelum ditarik kembali. Saat kusorot dengan sinar senter, tubuh Deri sedang dilahap oleh mereka. Aku bergidik antara mual dan ngeri, melihat temanku sendiri diperlakukan seperti itu. Sebuah benda lalu terlempar dari dalam. Gawai. Aku segera membuka kata sandinya, lalu melihat bahwa apa yang dibacakan lelaki cungkring itu. Bajingan! Pantas saja dia yang biasanya paling penakut, jadi merasa biasa saja. Dia membaca mantra pengusir setan.

    Terdengar suara gemuruh yang mirip suara air bah. Limbung. Aku merasa kaki ini sulit untuk digerakan, hingga aku harus mengesot untuk sedikit menjauh dari vila kenanga. Satria dan Heru sudah menghilang dari pandangan. Aku mengeluarkan segala macam sumpah serapah atas kejadian ini. Dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan seluruh rumah itu diselimuti oleh hantu. Mereka merangkak turun, mendekati, lalu memegang seluruh bagian tubuhku.

    “Ampun! Ampun! Aaaa ....”

Bandung Barat, 25/06/2020

Monday, 29 June 2020

Cerpen : Sepucuk Surat Kesedihan

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_27
#NomorAbsen_302
Jumkat : 803 Kata


Sepucuk Surat Kesedihan


    Aku sudah muak melihat cat putih ruangan ini, suara gorden yang dibuka tutup, juga derit tempat tidur rumah sakit. Aku tak ingin kehabisan detik dengan berada di sini. Aku ingin pulang saja, duduk di beranda sambil menatap senja yang jatuh di perbukitan sana bersama istriku. Aku ingin begitu saja.

    Aku juga sudah bosan pada dokter-dokter yang selalu mengecek kondisiku setiap hari, bau obat, suster-suster muda yang terkadang bersikap menyebalkan.

    "Cepatlah sehat, Tuan. Agar aku bisa memilikimu lagi sepenuhnya. Mari jalani sisa hari dengan lelucon-lelucon yang hanya kita yang tahu, kisah-kisah perjuangan kita saat muda, atau keluhanmu tentang sakit punggung, masuk angin, dan yang lainnya."

    Perempuan itu menggenggam erat jemariku dengan kedua tangannya, menguatkanku. Ia adalah wanita yang sangat tegar, bahkan di saat-saat seperti ini. Aku hanya bisa menyembunyikan tangis dalam senyum. Tangis yang seringkali tumpah saat ia terlelap.

    Sesekali para tetangga datang menjenguk atau menemani malamku di sini. Memberikan semangat bahwa kehidupanku masih panjang. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi. Apa artinya?

    Tubin adalah hari jadi pernikahan kami yang ke enam puluh. Ada firasat dalam diriku yang mengatakan, bahwa umurku sudah hampir pada batasnya. Penyakit ini telah menggerogoti diriku dan ini akhirnya. Kuambil kertas, lalu menuliskan segala yang kurasa. Bukan surat wasiat, tetapi permintaan egois pada perempuanku.



Photo by PhotoMIX Company from Pexels


***

    Perihal ketakutan akan kematian, Kekasih. Semoga bisa menjadi kekuatan di suatu hari nanti. Saling memeluk saat terpuruk, berpegangan di jalan licin penuh kebohongan, atau saling menguatkan saat digoyahkan. Kekasih, biarkan cinta jatuh di ladang harapan, agar ia tumbuh subur, bermekaran, hingga kita bisa memetiknya sambil mengenang saat-saat bersama.

    Ketidaksempurnaan yang membuat kita bisa saling melengkapi. Seperti, kita tak bisa memeluk diri sendiri dengan jangkauan tangan yang pendek. Hingga membutuhkan tubuh orang lain. Benar, kan?

    Kekasih, mencintai-Nya dan kamu saja sudah cukup bagiku. Aku yang fana ini sangat bahagia bisa hidup dan berbagi segalanya denganmu. Berada di sampingmu, menikmati secangkir kopi di beranda ditemani omelanmu. Berbagi kisah, kasih, keluh, dan resah. Sungguh, Kekasih. Jika Tuhan memintaku untuk pulang karena penyakit ini, aku rela. Aku sangat rela.

    Barangkali, tak ada yang namanya kesempurnaan di dunia ini. Waktu memburu napas hingga ujung, menuju haribaan yang dijunjung. Mengejar segenap ketidakpastian yang ganjil, terlepas kehidupan kita yang habis dicicil.

    Kita telah mengetahui bahwa segala yang ada di dunia ini fana, Kekasih. Yang abadi hanya toko bangunan, berjejer di jalanan sepi yang perlahan dilupakan. Aku ingin membuat cerita yang lucu, agar kamu tersenyum. Namun rasanya, aku memang sekaku awal pertemuan kita dulu.

    Kita fana, meski kenangnya menempel terus dalam jiwa. Sehingga anak-anak angan kerap berkunjung dan menyiksa. Sajak-sajak yang pernah tertulis, perlahan habis dikikis tangis. Kita pernah berharap umur lebih, tetapi takdir membuat kita menyesap sisa hidup dengan sedih.

    Untuk kamu yang masih kuat menghadapi kenyataan. Menyusun segala keinginan dengan mimpi-mimpi di masa depan. Percayalah, meski ragaku tak berada di sampingmu, jangan sampai ada setitik ragumu padaku. Meski dari jarak tak terhingga, meski dari dimensi yang tak lagi seirama. Percayalah, aku akan selalu mendukung dan mencintaimu.

    Mungkin nanti, kamu akan membaca kata-kata yang tertulis ini sambil menangis. Mengungkap kesedihan lewat air mata yang mengiris. Namun, pada segenap keinginan, khayalan, dan kenyataan, aku ingin selalu berada di sampingmu di segala suasana. Ini pelukku untuk segala masalahmu. Ini telingaku untuk mendengar segala ceritamu. Ini mataku untuk selalu menatap raut wajahmu. Ini tanganku untuk kamu genggam selalu, dan ini kepercayaan yang kutitipkan di dadamu. Biarkan aku mencintaimu, hingga kita bertemu lagi di tempat yang telah dijanjikan oleh-Nya.

    Terima kasih untuk segala yang pernah kamu berikan, dan maaf dariku untuk segala kekurangan. Aku mencintaimu.

***

    “Bila nanti saya mati, tolong berikan ini pada istri saya, ya, Sus.”

    Suster yang bertugas mengecek keadaanku terlihat bingung, tetapi tak bertanya. Disimpannya surat itu, lalu memeriksa keadaan pasien lainnya.

    Pukul empat sore dan istriku masih belum juga sampai di sini. Malah beberapa tetangga samping rumah yang datang. Mereka bilang, perempuan itu sedikit kelelahan hingga perlu istirahat. Aku mengangguk. Umur adalah sesuatu yang tak dapat disangkal dan tak pernah membohongi. Sama seperti perasaan.

    Jujur saja, ada yang terasa aneh dalam dada. Tampak ada sesuatu yang disembunyikan mereka. Mungkin, ini hanyalah prasangka, sesuatu yang tak dapat dijelaskan, atau kebiasaan orang-orang sebelum mati? Entahlah. Aku tak pernah tahu.

***

    Tak terasa, ini hari ke empat setelah aku menuliskan surat itu, hari jadi kita, dan hari di mana aku akan bertemu denganmu. Para tetangga yang baik hati ini bilang, kamu sudah mendingan, tetapi tak mengizinkan perempuan itu menemaniku. “Takut kembali sakit,” kata mereka. Dan, aku mengerti tentang itu. Hingga aku tak berani bertanya lagi dan bersikap menerima.

    Namun sekarang, saat aku sembuh dan diperbolehkan pulang. Para tetanggaku ini memeluk, lalu meminta maaf berkali-kali. Tidak hanya satu, tetapi semua orang yang kutemui. Konspirasi macam apa ini? Apa mereka semua akan meninggal mendahuluiku?

    Mengucapkan salam berkali-kali di depan pintu dan tak mendapatkan jawaban. Pak RT akhirnya datang, membawa sepucuk surat yang warna amplopnya mirip dengan yang kutulis empat hari yang lalu.

Bandung Barat, 27/06/2020

Cerpen : Sepenggal Kisah Seorang Penulis

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_28
#NomorAbsen_302
Jumkat : 691 kata


Sepenggal Kisah Seorang Penulis


    Lelaki itu terlihat sangat stres di depan naskahnya. Menuliskan beberapa paragraf, sebelum terhenti, dan membuat cerita yang baru. Ia terlihat amat resah, ada suatu hal yang sangat mengganggunya.

    Digaruknya kepala yang tak gatal itu. Membiarkan khayalan, ilham, atau apa pun sebutannya masuk ke dalam tempurung kepalanya, agar cerita yang sedang ditulisnya bisa selesai. Namun, setiap kali ia menulis tokoh itu, entah mengapa jari dan pena yang digunakan selalu membawa tokoh ceritanya menuju dalam bahaya. Padahal, penulis itu sangat mencintai tokohnya tersebut. Replika seorang perempuan yang disadurnya dari sang mantan kekasih yang masih ia cintai.

    Dalam ceritanya, perempuan bernama Lastri itu memiliki rambut yang bergelombang seperti ombak, mata yang sebiru air laut, dan yang paling lelaki itu suka, caranya berbicara yang terkesan manja, selalu membuat si penulis kesemsem dan mencintainya setengah gila.

    Ia mencoba membaca beberapa paragraf cerita di atas kertas itu.

    “Perempuan yang senyumnya lebih menyilaukan daripada mentari itu berangkat bersama beberapa temannya untuk menjelajahi hutan. Ia terlihat sangat senang. Berkali-kali perempuan itu meyakinkan dirinya bahwa ini semua bukan mimpi. Semua ini adalah berkat perjuangan kerasnya setelah beberapa kali meyakinkan orang tuanya bahwa berkemah sungguh aman, bahkan untuk perempuan. Ia juga menyebutkan bahwa ia didampingi teman-teman yang telah terlatih.

    Tak henti-hentinya perempuan itu berbicara, untuk mengeluarkan kebahagiaan yang sudah tak terbendung lagi di dadanya. Dalam perjalanan yang melelahkan itu, ia adalah satu-satunya yang terlihat menikmati. Teman-temannya hanya tersenyum dan sesekali menanggapi. Namun, perempuan itu terlalu bersemangat hingga tak menyadari hal aneh itu.

    Setelah cukup dalam memasuki hutan, beberapa temannya meminta waktu untuk istirahat. Lalu salah satu teman lelakinya meminta ia untuk sedikit menjauh dari kerumunan, sebab ada yang ingin dibicarakan. Tanpa sedikit pun rasa curiga, Lastri mengikutinya.

    Angin memainkan rambut perempuan itu. Meski di bawah sinar cahaya rembulan yang palsu, kecantikan Lastri tetap memesona. Bahkan saat beberapa tetes keringat menempel di pelipis dan wajahnya sedikit kemerahan karena rasa lelah.

    Sebelum perempuan itu tahu apa yang hendak dibicarakan teman lelakinya, tiba-tiba saja ...."



Photo by Mona Termos from Pexels
Photo by Mona Termos from Pexels


    Penulis berambut panjang itu bergidik. Di dalam kepalanya, perempuan itu dibayangkan diperkosa bergiliran, dibunuh, lalu dibuang begitu saja. Dan, si teman perempuan itulah yang rupanya telah mempersiapkan semuanya. Dari mulutnya, keluar berbagai macam kata yang tidak pantas, lalu ditutup dengan kalimat, “Ia memang pantas mendapatkannya. Salahnya sendiri telah mengambil beberapa orang yang kusukai.”

    Padahal, menurut penulis itu, salah teman si perempuan. Suruh siapa terlahir jelek? Atau, mengapa tak menjadi lebih baik saja untuk menarik perhatian lelaki yang dia suka? Cih!

    Kini, lelaki itu mengelap keringat dingin di pelipisnya, meneguk kopi yang tinggal setengah, lalu menarik napas panjang. Ia harus tahu alasan kenapa tokoh perempuan dalam ceritanya itu selalu berakhir tragis.

    “Kafe yang berada di lantai dua itu selalu penuh dengan para pengunjung. Bagaimana tidak? Selain menunya yang sangat enak, harganya juga terjangkau bagi para muda-mudi. Selain itu, tempatnya yang sungguh asyik untuk menatap senja berdua. Membingkai cerita romantis yang sedang ditulis oleh kisah asmara para remaja.

    Perempuan bermata biru itu menatap kaca jendela kafe, sambil membayangkan pertemuan pertamanya dengan sang kekasih. Sederhana, tetapi sangat romantis. Hingga terdengar suara tembakan ....”

    Sekali lagi cerita itu berakhir tragis. Di tempat Lastri berada terjadi perampokan. Dan para penjahat itu menembak tokoh kesukaannya karena takut terus memperhatikan perempuan itu hingga tidak fokus bekerja.

    “Cih! Dasar mata keranjang!" rutuknya.

    Lelaki itu sangat ingin menyelamatkan tokoh tersebut. Hanya saja, Lastri seperti ditakdirkan untuk meninggal dengan cara yang tidak biasa. Tragis dan menyesakkan. Sebagai penulis, lelaki itu merasa tak memiliki hak untuk membuat cerita yang mampu menyelamatkannya. Maka ia berpikir, bahwa hanya ada dua kemungkinan. Tokohnya dibunuh secara mengenaskan atau bunuh diri.

    Dan, pilihan penulis itu jatuh ke nomor dua. Lelaki itu mulai berpikir, bagaimana cara terbaik untuk melakukan bunuh diri. Melihat sekeliling dan menemukan tali.

    “Berapa menit yang diperlukan setiap manusia untuk mati gara-gara gantung diri? Satu? Dua? Atau tiga menit?” bisiknya pada diri sendiri.

    Tak menemukan jawaban yang pasti, akhirnya lelaki itu melakukan observasi sendiri. Ia segera naik ke atas kursi, mengikatkan tali ke kayu dan lehernya, lalu membiarkan tubuhnya menggantung. Tiga puluh menit dan tak terjadi apa-apa.

    "Improvisasi saja," ucapnya pada diri sendiri. Ia mencoba mengambil pena, tetapi merasa ada sesuatu yang janggal. Saat berbalik, penulis itu tertawa. Tubuhnya masih tergantung di sana.


Bandung Barat, 28/06/2020

Tuesday, 16 June 2020

Cerpen : Demi Sebuah Bukti

#NAD_30HariMenulis2020

#Hari_ke_16

#NomorAbsen_302

Jumkat : 498 kata

Demi Sebuah Bukti

 

    Sekelompok orang berteriak kegirangan setelah membunuh, memerkosa, atau memotong-motong bagian tubuh manusia lain tanpa merasa bersalah. Darah berceceran dan mayat bergelimpangan di mana-mana. Kengerian tak hanya sampai di situ. Di beberapa tempat yang tampak dari kejauhan, asap membubung tinggi, suara jerit dan pekik yang terdengar lirih.

 

    Lelaki itu terus memerhatikan keadaan dengan saksama. Telinga dan matanya semakin awas, ia sangat tahu bahwa keteledoran, sekecil apa pun itu, akan membuatnya mati mengenaskan seperti mayat-mayat itu, tetapi ini adalah jalan yang telah dipilihnya untuk ditempuh. Ia tak boleh kembali sebelum mendapatkan data yang dibutuhkannya untuk sebuah perdebatan tentang sebuah genosida Rwanda. Jika para profesor angkuh yang menertawakannya mengetahui berbagai cerita dari buku-buku dan orang-orang yang berhasil melewati neraka ini. Maka ia harus mendapatkannya lewat berada langsung di tempat sejarah kelam itu.

 

    Ada sesuatu yang tidak masuk akal dikatakan para profesor itu. Namun, mereka mempunyai bukti fisik berupa sebuah foto hitam putih, sedangkan lelaki itu hanya memiliki sanggahan berupa argumen-argumen. Lelaki itu merasa bahwa foto itu hanya editan, tetapi ia tak memiliki cukup bukti untuk membantahnya.

 

    Hingga sebuah keberuntungan datang menghampirinya. Anggita, teman perempuannya dari jurusan lain menemukan sebuah benda aneh di gudang kampus. Setelah diselidiki, ternyata benda itu adalah mesin waktu yang telah selesai dibuat, tetapi belum pernah ada bukti pernah digunakan. Lelaki itu merasa tertarik untuk kembali ke masa penuh gejolak di salah satu daerah di Afrika itu. Setelah menyetel tanggal ke 7 april 1994, lelaki itu bersiap untuk pergi. Sempat ditahan oleh Anggita, tetapi keinginannya telah bulat.


    “Kamu tahu itu sangat berbahaya, Ga? Kenapa masih mau pergi ke sana?”


    “Sebagai manusia yang terus mencari kebenaran, kita selalu mencari bukti empiris, bukan? Jika kamu mengkhawatirkanku, doakan saja, ya?”


    Mereka berdua berpelukan,  sebelum akhirnya lelaki itu menekan tombol untuk pergi ke masa lalu.


    Ia merangkak di antara ilalang dengan napas tersengal-sengal. Telinganya terus berusaha menangkap suara langkah kaki, jerit, apa pun yang bisa membahayakan nyawanya. Jantungnya berdebar kencang, keringat mengucur deras. Di bawah tatapan bulan, lelaki itu berdoa, berharap tak ada yang menemukannya, sambil mengambil beberapa foto.

 

    Hingga sampailah lelaki itu di sebuah rumah di sisi sungai. Ia melihat sekeliling lewat celah-celah batang ilalang. “Sepertinya aman,” bisiknya pada diri sendiri. Ia berdiri, lalu mengintip siapa saja yang ada di sana lewat jendela, sebab sedari tadi terdengar suara seseorang yang menangis tertahan.

 

    Seorang gadis kecil tengah meringkuk di lantai tanah, rambut sebahunya sangat kusut, baju yang dikenakan pun mengkhawatirkan. Lelaki itu merasakan takut, tetapi rasa iba mampu mengalahkannya. Ia merasa harus bisa menyelamatkan si gadis. Dengan berjinjit, lelaki itu berusaha masuk lewat pintu depan. Tanpa lelaki itu sadari, seseorang melihat siluetnya dalam gelap.

 

    Baru saja lelaki itu akan membangunkan si gadis kecil, sebuah serbuan telah terjadi. Orang-orang dari suku Hutu telah mengepungnya dengan berbagai macam senjata. Ia menyadari bahwa ini adalah akhir hidupnya. Mati dengan cara mengenaskan, di masa lalu.

 

    Ia mengingat lagi foto itu, seseorang lelaki yang koyak dengan berbagai benda tajam menghunjam tubuhnya. Pakaian yang digunakannya sama persis dengan lelaki itu. Bagi lelaki itu, semuanya tetap tak masuk akal.

 

Bandung Barat, 16/06/2020