Showing posts with label Apresiasi. Show all posts
Showing posts with label Apresiasi. Show all posts

Saturday, 6 June 2020

Distilasi Alkena

Distilasi Alkena
: denganmu, jatuh cinta adalah patah hati paling (di)sengaja

Di antara beberapa buku yang rahmat baca saat pandemi. Salah satu yang paling rahmat rekomendasikan adalah buku ini. Kenapa? Karena tiga hal


1) Istilah-istilah kimia yang bereaksi pada rasa sakit hati

Patah hati, luka, dan kenangan adalah makanan sehari-hari dari para remaja yang masih sendiri. Bukan hal aneh, jika terkadang tulisan-tulisan mendayu masih sangat laris di pasaran. Dan Wira Nagara sendiri berhasil menciptakan analogi unik yang (mungkin) sebelumnya belum pernah ada. Ada warna baru dalam perspektif unik sudut pandang Wira. Seolah-olah, ada sakit hati yang bereaksi pada tabung kimia. Keren.

Bukankah dengan mempelajari hal baru, kita tidak terus menerus dipeluk kebosanan?

2) Menyemarakkan luka bukan berarti tidak bahagia

Di beberapa sub judul, Wira menuliskan bahwa ingatan sengaja dibuat bulan-bulanan yang dihajar kenangan. Tak selalu buruk memang. Ia merayakan luka dengan minum kopi tanpa gula, ditemani lagu-lagu pengisi sepi. Seperti merayakan sebuah acara sakral, dengan luka, kenangan, dan patah hati sebagai persembahannya.

Di sub judul yang lain, Wira berhasil menciptakan sudut pandang bahwa kesedihanmu adalah kesedihanku, sedangkan kesedihanku bukan milikmu. Biarkan aku terluka olehmu dengan sukarela. Wira --dalam tulisannya-- menyadari bahwa, kita adalah pasangan asing yang dipertemukan oleh kesedihan masing-masing.

(katanya) salah satu tanda kita (telah) berubah adalah tak terlalu sakit saat membicarakan rasa luka di masa lalu. Sambil menunggu pandemi berakhir, yukk mulai berbenah diri.

3) Prosa yang diselingi quote patah hati. Membuat kita ingin tertawa, lalu bunuh diri

Terkadang cinta itu bagai proklamasi. Bisa kita rasakan dengan saksama, dan langsung hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Wira Nagara

Itu adalah salah satu contohnya. Gimana, ada yang terasa menusukkah dalam hati? Atau hanya ingin tertawa saja?

Monday, 25 February 2019

Apresiasi; Membaca Puisi Jalaludin Rumi

   Jalaludin Rumi adalah seorang filsuf Persia yang sangat dikenal. Baik di dunia barat, atau pun timur. Banyak dari puisinya yang memiliki makna cinta secara universal, (baik cinta kepada Tuhan, sesama manusia, atau bahkan pada alam dan semesta) dan hingga kini, puisi-puisinya masih dipelajari oleh orang-orang yang mempunya lattar agama yang berbeda-beda.

   Author pribadi sangat tertarik dengan banyak puisi Beliau. Salah satunya akan kita bahas di sini bersama. Ini hanya ungkapan Author yang menerima makna seperti ini setelah membacanya.

Upaya


Ikat dua burung bersama

mereka tak akan terbang

kendati mereka tahu memiliki empat sayap



   Sebelum kepembahasan, Autor mau sharing tentang pengertian puisi yang bagus versi salah satu penyair yang Author demen banget. Katanya, puisi yang bagus adalah puisi yang sampai kepada pembacanya, dan memiliki gaung yang kuat di kepala pembacanya. Kadang tak perlu memakai diksi yang mewah untuk sampai ditahap ini, tetapi harus punya citra yang kuat, diksi yang pas dan penghayatan yang tak sedikit. Meskipun, setiap orang punya gaya dan selera yang berbeda-beda.

    Judul selalu menjadi pembuka yang akan menjadi jalan bagi karya-karya tulisan khususnya puisi. "Upaya" judul yang diberikan beliau pada puisinya. Sebagai jembatan yang akan disarangkan ke kepala kita, "Upaya" apa yang dimaksud Beliau?

Ikat dua ekor burung bersama


Rumi menarik unsur menyatukan, atau penyatuan dari satu jenis hewan yang sama. Kenapa hal itu perlu dilakukan? kalimat ke dua menjelaskannya

Mereka tidak akan bisa terbang

   Kita disuguhi konflik lahir, "Tidak akan bisa terbang" Diksi yang dipilih Beliau adalah terbang, menyambung padanan kata dari kalimat pertama "Burung". Salah satu kesalahan penulis pemula (termasuk Author pribadi) adalah sering kali menempatkan kata yang tidak ada hubungannya dengan kalimat sebelumnya, dan mencampurkannya sesuka hati tanpa memilkirkan padanan kata lain, karena mengejar majas yang malah mematahkan kalimat sebelum dan sesudah kalimat itu ditulis. Hingga yang terjadi, puisi itu memiliki jarak dan memakai dua gaya bahasa yang tak ada kaitannya sama sekali. Ada lompatan yang membuat zona kosong, hingga pembaca hanya dapat meneriam separuh puisi yang kita tulis, atau bahkan yang lebih parah, para pembaca menjadi ambigu karenanya.

kendati mereka tahu memiliki empat sayap

   Jalinan antar kalimat yang Jalaludin Rumi tulis, membuat kita menyadari banyak hal. Meskipun merpati itu memiliki tujuan yang sama; dalam hal ini terbang. Bahkan memiliki fasilitas yang lebih dari cukup untuk menggapainya; Memiliki empat sayap. Tetap saja hasilnya nihil, jika kedua merpati itu tak bisa saling menyesuaikan diri antara satu dan yang lainnya.

   Jalaludin rumi berhasil membuka pikiran Author, bahwa jika tak seirama, disatukan pun percuma. Padahal, jika dilihat secara kasat mata, kedua merpati harusnya bisa terbang lebih cepat dengan empat sayap. Namun, ketika kesamaan tujuan tidak dimanfaatkan sebagai pemacu, rasanya mustahil bisa terwujud.

Bandung Barat, 12-11-2018

Saturday, 9 December 2017

Apresiasi; Puisi Pendek Ibu

Meski mata tak memandang, walau telinga tak mendengar, namun doa ibu  akan terus memeluk kita. Tak pernah terputus, tak pernah terhenti. Tak akan pernah ada titik di dalamnya.
@ArdianHandoko

   Dalam sebuah puisi, majas, diksi dan penghayatan merupakan unsur hal yang diwajibkan 'ADA' membalut. Sehingga bisa menjadikan pembaca larut dan hanyut dalam puisi si penyair. Dan dalam puisi karya Pak Cuk X Schobber II   ini, saya mendapatkan kedalaman makna yang terasa sangat mewah, dalam kata-kata yang sederhana saja adanya. Hebatnya, dalam puisi mini ini (saya juga tak dapat memungkiri, ini sebuah fiksimini) saya mendapatkan kedalaman pikir, keluasan imaji dan keindahan puisi. Hebatnya lagi, dalam puisi yang secuil ini saya mendapatkan gema panjang yang tak berkesudahan.

TULUS

Doa ibu tak bertitik

 
   Sebegitu hebatnya kasih sayang orang tua (Khususnya ibu) membuat kata demi kata dalam puisi ini begitu hidup, Jujur saja, pertama kali membacanya saya merasa wah dengan puisi mini (saya juga anggap ini Fiksimini) yang ditulis Begitu menyentil imajinasi, juga nurani. Ada kedalaman yang lebih luas dibanding beberapa katanya. Tentang seorang doa ibu.


   So, ada amanat yang tercetak jelas, dalam sulingan puisi ini. Membuat kita (terutama sebagai anak) harus berusaha menuruti  ucapan, keinginan dan harapannya pada kita. Karena saya pikir, tak akaan pernah ada seorang pun orang tua yang akan menyuruh anaknya agar masuk ke dalam lubang kelam.
 
   Mungkin, ini arti ketulusan, seperti ikhlas yang tanpa ada sedikit pun kata ikhlas di dalamnya. Terima kasih tegurannya Pak

Bandung Barat, 2017