Wednesday, 3 June 2020

Cerpen : Mengawetkan Senja dan Pelangi

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_3
#NomerAbsen_302
Jumkat : 492


Mengawetkan Senja dan Pelangi



    Andai aku menjadi secangkir kopi hitam yang sedang dia sesap. Mungkin, aku tak perlu segelisah ini memikirkan tatapan kosongnya saat memandang jalanan lenggang dari balik kaca kafe. Aku juga tak perlu menerka, apa yang sedang dipikirkannya, hingga beberapa air mata menyelinap jatuh ke pipi yang sebelumnya merona itu.

    Gadis itu menahan dagu dengan satu tangan dan tak lepas menatap jalanan yang mulai basah dimandikan gerimis. Kupikir, daripada harus menanggung sesal seumur hidup karena membiarkan seorang perempuan secantik dia menangis sendirian. Lebih baik, aku menemaninya. Meski harus kurelakan beberapa rupiah yang lenyap sebelum masuk kantong. Harga yang murah menurutku.

    Aku berjalan ke ruang atasan untuk meminta izin hari ini. Kukatakan saja, kekasihku datang ke kafe dan meminta waktu yang telah lama tak kuberikan padanya. Untung sekali Bosku yang satu ini sangat pengertian, ia hanya meminta di jam-jam berikutnya aku bekerja lebih giat.

    Kuganti pakaian, menghampiri gadis itu, dan duduk di meja yang sama dengannya.

    "Menunggu seseorang, Mba?" Gadis itu hanya menatapku sekilas, sebelum akhirnya terlihat kembali masuk ke dalam lamunannya sendiri. Aku tahu, aku mungkin hanya orang asing yang tak sengaja melihat gadis itu menangis. Namun, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang tak ingin kembali terulang seperti kejadian-kejadian di masa lalu. Wajah sendu gadis itu mirip seperti wajah ibuku sebelum menghilang. Pada dasarnya, aku adalah seorang yang apatis, hingga tak akan peduli pada lingkungan di sekitar. Namun, gadis ini memang berbeda. Sungguh sangat berbeda.

    Aku mencoba memikirkan kalimat-kalimat efektif untuk membuka percakapan yang akan membuatnya merasa nyaman dan tak terasa memojokkan. Sungguh, mata gadis di depanku itu bagai permata yang membuat semua kata hilang entah ke mana. Hingga pada akhirnya ia menyerah --atau mungkin merasa risih-- atas kehadiranku. Ia menarik napas dalam, lalu memasang senyum yang terlihat sangat palsu di mataku.

    "Aku tak apa, Mas. Terima kasih sudah peduli."

    "Maaf sebelumnya, jika aku mengganggumu. Aku hanya berpikir untuk ... aku hanya ... matamu tak bisa menyembunyikan kesedihan itu terlalu lama. Jika memang membutuhkan tempat pelarian untuk mencurahkan segala kekesalan yang ada, kamu bisa melakukan itu padaku."

    "Terima kasih." Perempuan itu terlihat menatapku dengan saksama. Memeriksa kesungguhan kata-kata yang terucap, sebelum bertanya dengan kalimat yang tak biasa.

    "Kenapa hitamnya malam dan basahnya hujan selalu lebih lama dibanding indahnya senja dan pelangi?"

    Retorika. Aku sangat tahu bahwa pertanyaan itu hanya retorika semata. Gadis itu pasti sedang mengibaratkan tentang mengapa kesenangan hanya terasa sesaat, jika dibandingkan kesedihan yang selalu berdiam lama.

    "Jika seperti itu adanya, mengapa tak mencoba mengawetkan saja pelangi atau senja?"

    "Caranya?"

    "Siram dengan air keras, lalu simpan dalam botol kaca. Hingga kamu masih bisa menatapnya kapan pun kamu mau."

    "Anda jenius sekali, Mas. Apa di sini juga menjual botol?"

    "Sebentar, saya carikan di gudang."

    Segaris senyum akhirnya muncul di wajahnya saat kuberikan botol bekas kopi. Pipi gadis itu kembali merona, ia pamit untuk mencari pelangi. Sebab hujan beberapa saat lalu telah berhenti.

    Ah, seandainya aku bisa menjadi botol yang gadis itu pegang. Sudah pasti aku akan mengetahui hal-hal bahagia yang pernah ia jalani.

Bandung Barat, 03/06/2020

No comments:

Post a Comment