#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_4
#NoAbsen_302
Jumkat : 476
Mereka yang Hilang Saat Kabut Turun
"Kabut tak pernah bisa menutup kebahagiaan, seberapa pekat pun adanya. Berbeda dengan kepergian, Dik."
Lelaki bertubuh tegap itu tak bisa mengucapkan apa pun lagi. Kepalanya berat, dadanya sesak. Ia harus mengambil keputusan yang sangat penting, hidup sendiri atau mati bersama kekasih. Dihisapnya lagi lintingan tembakau di sela jari, sebelum masuk ke gubug reot milik orang tuanya.
Bulan mengerjap beberapa kali. Barangkali, sambungan kabelnya yang sudah tua dan rapuh itu ada yang rusak. Kabut mulai turun dari puncak gunung hingga ke desa-desa di kakinya, membuat suasana mencekam. Terlebih di Desa Suka-suka.
Pagi itu, Kepala Desa dan perangkatnya kembali mengunjungi keluarga yang anak gadisnya hilang ditelan kabut. Mengucapkan kata bela sungkawa yang dalam dan sebesar-besarnya, ikut merasa prihatin atas apa yang terjadi. Tak lupa, mereka juga mengeluarkan uang sumbangan dari kantong pribadi untuk keluarga itu.
Terlihat, sepasang suami istri itu tampak terpukul. Mereka menangis, menyebut-nyebut bahwa kutukan di desa ini harus segera dihilangkan. Mereka tak ingin ada keluarga lain merasakan kesedihan yang sama. Sebab Sulastri, anak perempuan mereka satu-satunya hilang tadi malam.
![]() |
Photo by fotografierende from Pexels
|
Menurut kesaksian beberapa peronda, tadi malam bulan hilang ditelan kabut. Tak lama memang, tetapi itu sudah cukup untuk meyakinkan para warga bahwa kejadian hilangnya Sulastri wajar adanya.
Selain keluarga Sulastri, yang terlihat paling terpukul adalah Arman. Bagaimana mungkin ia bisa baik-baik saja jika calon istri yang akan dinikahi dalam beberapa minggu kedepan menghilang. Padahal, segalanya telah disiapkan, bahkan ada beberapa artis dangdut kesohor di desa itu telah diundang untuk menyemarakkan pesta pernikahannya. Namun, rencana tinggal rencana. Lelaki itu tak bisa lagi berkutik saat takdir mempermainkannya.
Pak Lurah sebagai orang yang dianggap sangat bijaksana, bahkan mengajaknya berbincang berdua di kebun pisang belakang rumah. Lelaki berusia senja itu terlihat sudah sangat mafhum dengan kesedihan Arman. Ia mengucapkan banyak kata-kata nasihat agar Arman sabar menghadapi semua ini.
Arman yang sangat tahu apa yang terjadi hanya mengangguk pasrah, tak berani membantah. Padahal di dalam hatinya, lelaki itu tak berhenti mencaci maki.
Setelah Kepala Desa dan perangkatnya pergi dari rumah duka untuk mengecek pembangunan taman hiburan dan sebuah gedung perbelanjaan, barulah ia berani bergumam tentang kesedihan dan kekesalannya.
"Maafkan Abang, Dik Lastri, membiarkan kamu diculik oleh komplotan di bawah perintah Kades. Abang juga sudah memohon-mohon kepada Kades untuk melepaskan kamu dari kutukan itu." Lelaki itu menatap langit, berharap hujan turun dan mengguyur tubuhnya. "Jika itu sudah menyangkut keinginan investor dari kota. Abang, bahkan mereka sudah tak bisa melakukan apa-apa. Kutukan ... kutukan yang tak lebih dari akal-akalan Pak Kades untuk menutupi kebusukannya setelah menculik para perawan desa."
Lelaki itu bergidik, memikirkan nasib kekasihnya dan para gadis lain yang telah diculik. Mereka pasti akan dipakai oleh beberapa orang secara bergilir, sebelum dijual ke rumah bordil di kota lain atau dibunuh jika masih tak mau mengikuti keinginan mereka.
"Ini sudah resiko pekerjaan Abang, Dik." Lelaki itu mengacak-acak rambutnya yang gondrong. Malam ini, ia pasti kembali menghabiskan waktu ditemani botol alkohol dan pelacur kesayangannya.
Bandung Barat, 04/06/2020

No comments:
Post a Comment