Distilasi Alkena
: denganmu, jatuh cinta adalah patah hati paling (di)sengaja
Di antara beberapa buku yang rahmat baca saat pandemi. Salah satu yang paling rahmat rekomendasikan adalah buku ini. Kenapa? Karena tiga hal
1) Istilah-istilah kimia yang bereaksi pada rasa sakit hati
Patah hati, luka, dan kenangan adalah makanan sehari-hari dari para remaja yang masih sendiri. Bukan hal aneh, jika terkadang tulisan-tulisan mendayu masih sangat laris di pasaran. Dan Wira Nagara sendiri berhasil menciptakan analogi unik yang (mungkin) sebelumnya belum pernah ada. Ada warna baru dalam perspektif unik sudut pandang Wira. Seolah-olah, ada sakit hati yang bereaksi pada tabung kimia. Keren.
Bukankah dengan mempelajari hal baru, kita tidak terus menerus dipeluk kebosanan?
2) Menyemarakkan luka bukan berarti tidak bahagia
Di beberapa sub judul, Wira menuliskan bahwa ingatan sengaja dibuat bulan-bulanan yang dihajar kenangan. Tak selalu buruk memang. Ia merayakan luka dengan minum kopi tanpa gula, ditemani lagu-lagu pengisi sepi. Seperti merayakan sebuah acara sakral, dengan luka, kenangan, dan patah hati sebagai persembahannya.
Di sub judul yang lain, Wira berhasil menciptakan sudut pandang bahwa kesedihanmu adalah kesedihanku, sedangkan kesedihanku bukan milikmu. Biarkan aku terluka olehmu dengan sukarela. Wira --dalam tulisannya-- menyadari bahwa, kita adalah pasangan asing yang dipertemukan oleh kesedihan masing-masing.
(katanya) salah satu tanda kita (telah) berubah adalah tak terlalu sakit saat membicarakan rasa luka di masa lalu. Sambil menunggu pandemi berakhir, yukk mulai berbenah diri.
3) Prosa yang diselingi quote patah hati. Membuat kita ingin tertawa, lalu bunuh diri
Terkadang cinta itu bagai proklamasi. Bisa kita rasakan dengan saksama,
dan langsung hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Wira Nagara
Itu adalah salah satu contohnya. Gimana, ada yang terasa menusukkah dalam hati? Atau hanya ingin tertawa saja?
No comments:
Post a Comment