Monday, 20 March 2017

fiksimini; KISAH SEPASANG MERPATI

KISAH SEPASANG MERPATI



JANJI SETIA - Kedua merpati itu mematahkan sayap, lalu berjalan berdampingan. Kini mereka hidup di antara kita, sebagai manusia.

DIANGGAP GILA - Mereka memunguti remah-remah di jalanan. Kebiasaannya masih tak dapat dihilangkan.

SEBUAH KEPUTUSAN - "Aku harus pergi, agar kita lebih bahagia," | "Kau harus belajar lebih baik untuk jadi seorang di sana,"

BUS KOTA - Perjalanan harus diteruskan. Meski tadi malam bus yang lelaki itu naiki terbakar.

PENANTIAN - Sudah tiga tahun wanita itu duduk di bangku terminal. Menanti seorang laki-laki yang telah mengambil hatinya.


#Ar_rha
@Ardian_handoko
Bandung Barat, 2017

Monday, 13 March 2017

Master Ip dan Negeri Tak Berbentuk

Master Ip dan Negeri Tak Berbentuk


   Raja mengangguk tanda mengerti setelah Ip menjelaskan semuanya.
.
    "Para kesatriaku, antarkan Master Ip menuju penyihir yang ada di perbatasan kerajaan kita!"
.
    Semua bergidik ngeri, hingga akhirnya seorang penasihat memberanikan diri berbicara. "Maaf, Tuanku. Bukankah penyihir itu agak sedikit em ... gila?"
.
   Beberapa kesatria mengangguk tanda setuju, lainnya hanya diam memikirkan bagaimana jadinya jika mereka yang diperintah mendampingi Master Ip.
.
   "Tak ada 'kah satu orang pun kesatriaku yang berani mengantar Master Ip?"
.
   Semua kesatria mundur perlahan, kecuali seorang budak lusuh. Terlihat begitu konyol, dengan tatanan rambut acak-acakan nan bau. Dengan senyum aneh mirip keledai yang memperlihatkan gigi-gigi patah dan tubuhnya yang membungkuk, dia mulai memperkenalkan diri.
.
   "Zorgon, Yang Mulia. Tawanan dari Kerajaan Frogitus, siap melayani." dia menghormat seperti salam seorang Yunani, hingga wajahnya hampir menyentuh lantai. "Ini sebuah kehormatan, namun apa balasan yang pantas bagi hamba untuk misi ini, Yang Mulia?"
.
    "Aku tau apa inginmu, Zorgon. Kau kuperbolehkan tidur di kandang kuda sepuas hatimu. Selain itu, akan kubuatkan ruangan khusus untukmu bereksperimen dengan benda-benda luar angkasamu. Apa itu cukup?"
.
    "Lebih dari cukup, Yang Mulia. Terima kasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia." Tubuhnya yang masih membungkuk pun seperti diseret mundur.
.
    Raja lalu menatap wajah Master Ip. "Apa kau siap menghadapinya, Ip?"
.
   "Jika orang pintar harus dikalahkan oleh orang yang lebih pintar. Maka penyihir gila itu hanya saya yang dapat mengalahkannya, Raja. Tiada pilihan lain ...."
.
   "Terima kasih, Ip. Hanya kau satu-satunya harapanku."-- ditepuknya pundak Master itu-- "Pengawal! Sediakan kereta dan perbekalannya untuk Master Ip, Sang Pemberani dan Zorgon tawanan kita!!"
.
    "Ip, berjanjilah kau akan membawa putriku kembali."
.
    "Saya berjanji."

Saturday, 11 March 2017

FlashFiction: Semangat Api

Semangat Api!


     "Selamat Mas, akhirnya kita bertemu lagi. Merdeka!"

     "Selamat ... selamat, akhirnya kau sampai juga di sini," ucap Komandanku saat berada dipasukan khusus, beliau menyalamiku.

    Aku masih merasa bingung atas ucapan mereka. Apa mungkin waktu kembali ke masa lalu, saat detik-detik pembacaan proklamasi. Aku hanya tersenyum kepada semua yang hadir dihadapanku. Kepalaku masih sedikit terasa pusing.

    Wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, apa ini efek sinar rembulan yang terpantul pada wajah mereka. Tak ada ketakutan, atau suasana mencekam, kami semua diliputi kebahagiaan. Para prajurit lain pun sedang bersenda gurau dengan yang temannya.


    "Di mana pasukan lain komandan?"

    "Sebagian telah melanjutkan perjalanan, yang lain masih berusaha melepaskan diri dari belenggu"
 
    "Apa Belanda kembali? Atau Jepang masih belum mengakui kedaulatan negeri kita? Ayo kita bantu, Komandan! Saya siap mengangkat senjata kembali!"

    "Tenang-tenang, kita sudah harusnya beristirahat sodaraku, bukan Belanda atau Jepang, tapi sodara kita sendiri" Ia tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya, "biarkan anak cucu kita yang melawan bangsa mereka sendiri"

    "Apa ada kudeta? Kenapa mereka melawan bangsa sendiri?"

    "Tenanglah, kita telah memberikan tugas itu pada mereka. Kini saatnya kita harus percaya!"

    "Kita mungkin sudah pengsiun, tapi kita harus kembali menyatukan bangsa ini! Demi tanah air Ibu Pertiwi. Merdeka!" ucapku sambil berdiri. Tak tahan aku mendengar semuanya. Apa mereka tak tahu berapa banyak nyawa yang harus gugur demi kemerdekaan, dan persatuan ini.

   "Kau mau kemana sebetulnya?"

    "Aku ingin kembali berperang!"

    "Tak ingatkah kau apa yang terakhir kali kau lakukan?"

    "Aku ... aku ingat, aku sedang menceritakan bagaimana perjuangan kita mengusir penjajah. Lalu ... lalu ...." kata-kataku terhenti.

    Benar juga, aku telah mati karena serangan jantung siang tadi. Lalu aku ingat semuanya, komandanku ini telah mati saat terjadi pemberontakan di wilayah kami, dan orang-orang di sekitarku adalah korban dari pihak kami dalam peperangan. Aku masih hafal, tiga orang di dekat tenda adalah korban penembakan Jepang.


    "Tak perlu terkejut seperti itu, kita sudah memberikan warisan berupa tanah air dan semangat persatuan. Selain itu sebagian dari mereka masih mendo'akan kita. Yah walau pun kebanyakan dari mereka hobinya sekarang mengeluh"

    Melintas dipikiranku, seorang kawan pejuang yang kini tak memiliki tanah dan air, padahal dulu dia adalah pejuang. Sama seperti kami yang membela tanah air, namun nasibnya kurang beruntung hingga di usia senjanya masih harus berjuang demi kehidupannya. "Selamat berjuang kawan. Merdeka!"

Bandung Barat 2016

Thursday, 9 March 2017

Jangan Katakan Kita Belum Merdeka.


Jangan Katakan Kita Belum Merdeka.



Jika masih merasa risih
Bagaimana ucap terima kasih.

~

Merasa ragu jasa pahlawan
Buat pesimis menatap masa depan.

~

Upacara bukan simbolis kenegaraan
Harusnya menangis mengenang pertarungan.

~

Mari bersatu membangun negeri
Agar harumlah bumi pertiwi.

~

Merdeka bukan berarti senang-senang
Tapi saatnya lanjutkan perjuangan.

~

Janganlah lupa pahlawan dido'akan
Karena mereka adalah kebanggaan.
Bandung Barat 2016
#Ar_rha

Wednesday, 8 March 2017

FlashFiction; Cerita Masa Lalu.


Cerita Masa Lalu.

Aku masuki buku diary yang dulu kita tulis bersama, dan kini sulit rasanya menemukan jalan keluar.


(Prosais)

    Aku kembali menemukannya, sebuah tugu yang mengabadikan kisah kita. Sejujurnya aku tak sanggup membacanya hingga akhir, karena setiap kalimat yang terukir, mengandung magis yang membuatku masuki alam yang telah tertulis takdir.

    Dada berdegup, diri gugup, dan bibir ini mengatup.

***

     Aku kembali ke sini. Melihat kau dan aku (beberapa tahun silam) sedang menikmati langit, dengan burung lalu lalang. Menarik nafas dalam-dalam; mencoba menetralisir getaran di dalam dada. "Oh, indah bukan kasih? Hmmm, kamu tahu gak apa yang tak pernah terhitung di dunia ini?" kau hanya tersenyum, dilanjut menggelengkan kepala. Matamu menatapku penuh tanya, berbicara tanpa kata. Meminta sebuah jawaban, dari apa yang tadi aku lontarkan.

     "Yang tak pernah terhitung di dunia adalah banyaknya bintang di langit, berapa luasnya jagad raya dan rasa cintaku padamu." Bola matamu berbinar, dan tangan kanan yang halus itu mencubit lenganku.

     "Gombal!" ucapmu sambil menjulurkan lidah, namun aku tahu. Senyummu begitu merekah dalam jiwa. Kau lanjut menyandarkan kepala ke bahuku, dan tangan kiriku merangkul pinggangmu.



     Hitam sekejap.

     Di tempat berbeda, kau dan aku berada di perpustakaan. Melukis cerita dalam sebuah buku, diselingi tawa. Menambahi tulisan dengan kata-kata memuja. Menulis hal kecil dan konyol yang kita lewati, menempel puisi-puisi, lalu diparagraf akhir menulis titimangsa; berharap ini semua abadi. Kita menyimpan sepasang (kau satu, begitu pun aku) buku ke dalam tas masing-masing.

***

     Terlelap tidak, tersadar tidak. Waktu begitu cepat berlalu, saat aku bermain imaji, masuki kenangan kita berdua.

    Sebagian nyawaku masih berada di dalam diary. Warnanya mungkin memudar, serta menguning. Cover yang mengelupas, tapi tulisan kita tetap saja sama. Mirip seperti namamu yang masih terpahat di sini, di hatiku.

Bandung Barat,. 2016