Thursday, 10 August 2017

#FFkamis AKHIRNYA AKU BISA MELIHAT

AKHIRNYA AKU BISA MELIHAT 

     Kupakai kaca mata pemberian ayah dengan senang hati. Kini,  aku dapat melihat dengan jelas semua warna yang selama ini hanya bisa kubayangkan saja. Mawar yang merah di taman, awan-awan putih yang berjalan bergandengan di atas langit biru, juga hijaunya pohon mangga di depan rumah.

   "Bagaimana perasaanmu, Nay?"

   "Senang sekali ayah, terima kasih. Ini hadiah terbaik yang pernah kudapatkan," aku tersenyum sambil memperhatikan wajah orang yang paling menyayangiku itu. Tapi, sebentar kenapa mata ayah tertutup?

   "Ayah, jadi yang mendonorkan mata ini?" aku pun segera berlari untuk memeluknya.

   "Sudah jangan menangis, sebelum ayah mendapatkan mata baru untukmu, pakai dulu mata ayah, ya?"

Bandung Barat, 2017

*Disadur dari ide Mistikus Anomali, GRATIS BICARA  - Tiga puluh menit, lengkap dengan mulutnya.
AKHIRNYA AKU BISA MELIHAT - Setelah ayah memberikan kaca mata lengkap dengan matanya.  

Tuesday, 8 August 2017

Prosais; Ketika dan setelahnya

Ketika dan setelahnya



   Aku selalu membencimu, membenci jarak-jarak bisu, yang tanpa kata. Pertemuan yang sudah ditakdirkan pada garis sunyi yang dingin, entah kebekuan macam apa yang tega mengkelukan lidah, hingga mulutku kehilangan kata-kata, membuatku tak mampu bicara. Pada waktu, juga pada dirimu, gadis berkerudung biru.

   Dan kini, saat wajahmu yang cerah seperti pantat kunang-kunang itu pergi. Aku merindukan sosokmu, rindu pada setiap tingkah konyolmu, "Dasar gadis unik!" hanya itu yang kerap terlontar, karena hanya tiga kata itu yang sempat terucap.

   "Mengapa dirimu pergi juga pada akhirnya?" Aku mengutuk kisah yang harus berakhir ini. Dulu kuanggap dirimu peri, atau lebih tepatnya bidadari, yang kerap membawa sebotol tawa dan senyum, yang pernah kupunya namun lupa kusimpan di mana.

   Hari ini aku mengenangmu sebagai kenangan, kugenggam erat-erat. Mencoba menghabiskan luka yang bertahan pada secangkir kopi, sendirian.

   Harum lembut parfum perlahan memasuki indra penciumanku, dan sesosok bayangan gadis manis tercipta di depanku,. Tercipta dari ribuan ingatan yang membentuk kepahitan, juga kegetiran, yang hanya bisa kulawan hanya dengan merintih.

   "Langit biru, kicauan burung gereja juga wajahku yang imut ini hihi, menghiasi indahnya hari ini. Kak, seandainya yang pertama kali menghilang di dunia ini adalah aku, apa yang akan kakak rasakan?"

   Harusnya bayanganmu tak berbicara yang jawabannya sudah jelas seperti itu. Membicarakan hal yang tentu saja akan semakin menyakiti sepotong daging berwarna merah di dadaku. Harusnya kau tau!!

   Taman kota mendadak sepi di telingfaku, tak ada suara. Bahkan mungkin, petir menggelegar di siang panas seperti ini saja hanya akan membelai telingaku dengan lembut.

   "Seperti puisi SDD, kita abadi, kan?"

   "Hanya saja, waktu terlalu sibuk untuk terus mengenang kita," Aku menutup muka dengan kedua tanganku. Seandainya, seandainya! Hanya kata harapan bisa kuandalkan, kuterangkan pada bayanganmu yang tersenyum di depanku. Dik, anganku hanyalah selembar daun yang tertulis namamu, hanya namamu.

   Langit senja kini hendak digulung, diganti lukisan malam yang gelap. Dan seperti masa lalu,kita harus segera pulang.

   "Jangan bosan dengan bayanganku yang akan selalu hadir di mimpimu, Kak, hihi," ucap bayanganmu tengil.

   Bahkan, bayanganmu juga yang selalu menemaniku di saat nyata!


 Bandung Barat, 2017

Tuesday, 25 July 2017

Cerpen; Hari Yang Seharusnya Lebih Bahagia

 Hari Yang Seharusnya Lebih Bahagia


   "Seminggu lagi, kita akan melangsungkan pernikahan," aku menggenggam jari kekasihku erat, merasakan detak nadinya. Menikmati hangatnya kebersamaan yang akan bermuara pada samudra pernikahan. "Bagaimana perasaanmu, Clara?"

    Genggaman tangannya semakin erat mencengkramku, seolah tak ingin ada jarak yang akan memisah. Matanya yang bening seperti kelereng itu terpejam sejenak, lalu bergantian menatap wajahku dan senja bergantian. Kudengar lagi gulungan ombak bergemuruh menghempas pantai, teriakan bocah-bocah kecil bermain bola, dan suara lembut Clara memasuki telingaku. "Mungkin, perasaanku kali ini seperti perasaan mentari menunggu senja, meski tahu  waktunya akan tiba, debar itu kerap menghentak dalam dada."

    Mata kami saling menatap lekat, tersenyum, lalu menghabiskan senja di pantai ini dengan sebutir kelapa hijau berdua.


****

    Lelaki di depanku menangis saat menceritakan kisah itu pada tamu undangan. Ini hari pernikahannya, hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru yang dijalani bersama. Namun, Tuhan ternyata punya naskah lain yang harus dilewati. Clara, kekasihnya, telah meninggal karena serangan jantung beberapa menit yang lalu. Aku tak tahu, apakah Pras akan terus melanjutkan pernikahan ini, meski dengan mayat Clara? Juga, seberapa dalam perasaan tercabik keluarga mempelai wanita dan pria? Entahlah, yang aku rasakan sebagai tamu undangan, hanyalah, seharusnya hari ini, menjadi hari yang lebih bahagia.

Bandung Barat, 2017
Ardian Handoko

Monday, 10 July 2017

Cerpen; Pulang

Pulang

    Aku mengemas sisa-sisa rindu yang masih berserakan, memasukannya ke dalam plastik bening, lalu menyimpannya ke dalam hati. Aku harus segera menggugurkan tangis karena jarak di wajahmu. Karena harus kuakui, bahwa rindu ini bertambah berat setiap detiknya.

    Selembar tiket di tangan, hendak merealisasikan sebuah perjumpaan. Beberapa memori tentangmu kini hadir kembali, bermain-main dalam hayalanku. Mengumandangkan kesedihan tentang perpisahan waktu itu. Pahit memang, tapi apa daya. Sejuta mimpi meminta harganya untuk ditebus menjadi nyata.

    "Berjanjilah kau akan kembali, Mas! Jangan biarkan tubuh ini berlumut karena menunggumu!"

    Aku mengecup keningnya, membelai hijabnya, menarik nafas dalam-dalam, meneguhkan hati untuk berjanji, "Aku pasti kembali. Meski rintangan pasti hendak mengelabui."

    Kita berdua lalu berpelukan di antara daun-daun rambutan berwarna kecoklatan yang gugur diterpa angin. Senja kala itu hanya merona merah, seperti cemburu pada kita berdua yang tenggelam dalam sebuah rasa yang dinamakan, cinta.

    Kereta hendak berangkat ketika aku tersadar dari lamunan. Menatap kaca sebelah kiri, mengamati wajah-wajah manusia yang hendak pulang ke kampung halaman untuk menemui ayah, ibu, istri atau kekasih yang mereka tinggalkan demi sebuah mimpi, juga masa depan yang diharapkan. Tentu saja wajah mereka terlihat bahagia. Sebentar lagi, pertemuan yang lama tergadaikan akan dibayar.

    Suara peluit petugas menggiring kereta untuk melaju. Orang-orang sudah mulai duduk. Perlahan stasiun kereta mulai menghilang berganti hamparan pesawahan yang begitu hijau.

    "Tak akan pernah ada yang lain di hatiku, Mas. Karena dari pelukmu dapat kupanen rasa yang sebelumnya tak pernah ada. Percayalah, aku akan setia."

    "Aku selalu percaya padamu, Dik."

    Yah, itu adalah janji setia yang pernah terucap dari bibirmu yang manis. Dan janji adalah hutang yang mesti dibayar, sekali pun dengan bayaran waktu yang tak ber-ujung, hingga kematian menjemput di ujung jalan.


***

    Kereta melaju bagai angin yang berhembus, melewati cepat pemukiman-pemukiman yang terlihat berlari meninggalkan pandanganku. Rasa rindu ini  menjadi semakin menyesakan dada, karena disetiap persimpangannya terus  bertambah.

    'Meski tubuh kita jauh, aku tak pernah merasa sepi, Dik. Bagaimana mungkin rasa yang terkutuk itu memelukku, sedangkan wajahmu terus saja mengitariku. Tiada pernah rasa ini menyekapku dalam ruang hampa, karena indahnya cintamu terus menerangi sepanjang jalan hidupku. Dik ... bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu, sedangkan janji setia tengah kugenggam begitu erat.' Aku bergumam sebelum benar-benar terlelap.


***

    Tak terasa, aku sudah sampai di kota ini. Kota kelahiran yang telah menyatukan kita dalam sebuah ikatan. Segera aku turun, sambil membawa tas, beserta beberapa kardus sebagai oleh-oleh dari kota.

    Aku berjalan perlahan, sambil memperhatikan manusia-manusia yang lalu lalang di hadapanku. Mencari sesosok wanita berhijab yang senyumnya dapat melelehkan tumpukan es di dadaku. Yang tutur katanya seperti embun, menyejukan kegersangan di sudut jiwa.

    "Nak, di sini!" Kudengar suara ibu di antara berisiknya manusia-manusia di sekitarku yang berdengung seperti lebah. Aku berlari, bersimpuh di kakinya sambil menangis.

    "Sudahlah, Nak. Kuatkan hatimu," gumam Beliau di telingaku. Aku mengangguk lemah dengan pasrah. Kekasihku tak terlihat menungguku, dia telah meninggal beberapa hari yang lalu, setelah aku mengiriminya pembunuh berdarah dingin karena memilih untuk menikah dengan lelaki selain aku.

Ardian Handoko
Bandung Barat, 2017

Cerpen; Surat Untuk Seseorang yang Kupanggil Puisi

Surat Untuk Seseorang yang Kupanggil Puisi

   Dik,  masih kuingat bagaimana pertama kali menemukanmu. Yah, event pembacaan puisi itu yang telah menjadi garis takdir yang menjadi pembuka pada lembaran kisah yang ingin kutulis denganmu, hingga selesai. Event sederhana memang, tapi begitu membekas di jiwaku.

***

" ... daun-daun kering itu pernah bertahan sekuatnya
Menanti si embun pagi; kekasihnya
Matahari, bintang dan rembulan yang menjadi saksinya
Aku ingin setabah itu menunggumu
Hingga pertemuan menggugurkan rindu-rindu di atas dada
Atau Tuhan yang menghapus semua dahaga, juga luka
Dengan kematian tanpa air mata."

    Suaranya lantang mengguncang emosi, menggetarkan relung-relung di dalam jiwa. Pemilik suara itu adalah gadis berkerudung ungu, manis sekali senyumnya, diiringi tepuk tangan yang bergumuruh, dia turun dari atas panggung.


***

    Pembacaan yang sangat indah, di mulai saat itu, aku selalu memanggilmu 'Puisi' -- maaf jika aku mengambil sebutan untukmu secara sepihak-- dan mulai sejak itu, aku mencari tahu semua kesukaanmu, semua tentangmu.


***

    "Namanya Niffa, Di. Gadis dengan ciri khas diksi penuh filosopi, dia udah lama ngikut perkembangan sastra."

    "Boleh minta kontaknya, Bro?"

    Dia mengangguk, lalu menyebutkan beberapa angka.


***

    Pertemuan pun tercipta. Dari dekat kuperhatikan bentuk wajahmu, matamu seperti sebuah kunang-kunang yang bersinar, senyummu adalah sebait puisi yang ranum.

    "Ardi ...."

   "Niffa."

   Kita pun berjabatan, dengan lengan sama-sama bergetar. Kita juga sama-sama diam, sambil sesekali mencuri pandang. Betapa bodohnya aku saat itu, dan apa mungkin wajahku sangat merah seperti wajahmu saat itu?

   Dan semenjak pertemuan itu, aku kerap menulis tentang kesukaanmu, tentang tawamu, tentang senyummu, tentang gaya bicaramu, tentang diksimu, tentang puisi-puisi yang kerap kau bicarakan, tentang cerpen-cerpen keren yang mengusik nurani, tentang harimu, tentang kerjaanmu, tentang orang tuamu, hingga akhirnya tentang kita.

    Pada senja hari, aku memberanikan diri menulis semua cerita ini kepadamu. Hanya ingin menyampaikan sesuatu pada intinya, maukah kamu mendampingiku dipelaminan, lalu berusaha sebisa mungkin mempertahankan ikatan tentang rasa ini?


***

   Kubaca lagi surat itu, esok, akan kuberikan pada Sang Puisi yang telah menemani perjalanan pernikahanku yang telah berjalan selama 3 tahun.

 Ardian Handoko 
Bandung Barat, 2017