Sejauh mana kata dapat menceritakan, diksi mengutarakan, dan perasaan-perasaan yang terpendam, dapat tersalurkan. Karena terkadang, rasa hanya bisa dibahasakan lewat tulisan.
Monday, 1 October 2018
Prosais; Di Sini, Sendirian
Sunday, 2 September 2018
Prosais; Mengendapkan Lara
Ditinggalkan kala sendu, dan matamu masih menjadi tempat cinta bernaung, tinggal dan terlelap. Benar-benar menjadi gelandangan perasaan ini. Saat kau berkata, jangan lagi pulang, jangan lagi datang. Pergilah, hatiku bukan rumah yang menunggu kau kembali setelah lelah berpetualang.
Kemana hendaknya kereta pergi, jika bukan ke stasiun, Puisi? Bibirku yang pekat ini masih menggumamkan namamu.
Senja, hujan, dan wajahmu kerap mengisi ribuan kekosongan lembar-lembar kerinduan. Mereka tak lelah menunggu, meski sering kali permintaannya tak kugugu.
Kau bisa jadi isi doaku, atau kau memang jawabannya. Siapa tahu.
Ketika kau merasa terasing di antara tumpukan pekerjaan. Mungkin mengingatku bisa sedikit meringankan. Jangan biarkan hatimu menjadi sepi, sebab kelak, mungkin saja aku tak selamanya bisa menemani. Jangan menutup diri hingga aku tak bisa menepi.
Jangan pula merasa sendirian kala sendu, ada aku yang tak seberapa, semoga saja bisa meluangkan waktu, untukmu.
Aku tahu, aku hanya lilin kecil, tetapi berharap selalu menemanimu bahkan saat terpencil.
Kita berdua memang berbeda. Aku menjalin harapan, kamu memutusnya.
Bandung Barat 23/06/2018
Note; Sumber gambar terlampir
Tuesday, 28 August 2018
Prosais; Berladang Di Tanah Kesedihan
Sepatah apa pun hati, ia tetap tunas yang akan tumbuh dan mekar kembali.
Menangislah kau ketika dia pergi, semoga air mata bisa menghanyutkan kenangannya. Biatkan air mata mengikis, melumat segalanya hingga habis. Hingga kau dapat melihat tanah baru di depan sana.
Merataplah sepuasnya. Berteriaklah! Keluarkan apa yang mengganjal di hatimu. Agar ketika seseorang yang benar-benar peduli mendengar dan kembali menemani. Atau ketika ia benar-benar menjauh, ada orang yang akan datang, lalu menyiraminya agar tumbuh.
Percayalah. Hatimu adalah tunas yang tak akan pernah mati. Seberapa kuat mereka memangkas, hatimu akan lebih kuat meranggas, semakin cepat pula kau akan belajar tangkas.
Batangmu yang patah, akan segera menumbuhkan semangat lebih meruah. Suatu saat nanti, kau akan menyadari, senyummu akan mekar abadi.
Buktikan dia salah tentangmu. Dia pikir kehilangan akan menghabisi, nyatanya perasaanmu kini telah penuh terisi.
Apa hal?
Hatimu adalah tempat Tuhan bercocok tanam dengan cinta.
Bandung Barat, 19/07/2018
Note; Sumber gambar tertera
Saturday, 25 August 2018
Puisi; Ketika kau lautan, dan aku hanya bisa menatapmu di tepian
Sama halnya dengan keangkuhan camar, seiring kepak sayapnya meninggalkanku
Atau lautan dalam, yang airnya terlihat tenang, yang suaranya tak terdengar bahkan dalam kesendirian
aku berkaca pada takdir
sesosok keinginan menjadi tanda tanya
"Inikah yang orang-orang katakan berbeda?"
di atas pasir putih
di atas segala ketidakmungkinan
sebagai apa yang menjadikannya sakau
Puisi; Api Kecil, Anjing dan Negeri
Negeri Ini
Negeri ini adalah rumah
Yang di isi suku-suku ramah
Yang rukun
Yang damai dalam keanekaragaman
Senja di Negeri ini adalah emas
Dipanen penyair setiap hari
Pondasinya tulang belulang
perekatnya darah pahlawan
Tapi sesekali, kudengar ibu merintih
Anaknya di kota kebanjiran
Anaknya di timur kelaparan
Anaknya di barat terlibat perselisihan
Kemana hendak melaju
Jika masih terjadi perang antar suku
Kemana kaki hendak melangkah
Jika orang-orang sudah tak ramah
23/07/2018
Anjing!
Tulang belulang di atas tanah
diselimuti debu, beberapa rengkah dan hancur
sebagian digigit anjing
untuk jimat anti penangkapan
"Kami anak pahlawan!"
gonggongnya nyaring di televisi
Tulang belulang yang berserak
membisu di dalam tanah
sejarah menguburnya
tanpa nama, tanpa penghormatan
Padahal dia sama berjuang
demi kau!
demi anakmu!
demi cucumu!
yang ongkang-ongkang kaki korupsi
yang setiap hari berbusa menebar janji
cuih! Gigi taringmu terlihat ngeri
Tulang belulang pahlawan
yang jadi pondasi kemerdekaan negeri
yang darahnya jadi perekat
hingga negeri ini, berdiri di atas kaki sendiri
Tapi lihat di sana!
si anjing malah mencuri
lalu menjilat kaki tuannya
Api Kecil Milik Kita
"Bakar! Akar saja api kecil itu!"
"Dia pasti akan memancing keributan!"
"Bakar! Bakar hingga jadi abu!
Biar dia habis, diterbangkan angin lalu!"
Kau tak seharusnya meminum
Sebotol anggur -- hingga mabuk
Agar kau dapat menyelaminya
Seperti luka
Semakin dikorek, semakin menganga
Diungkap makin kentara
Maka beruntunglah si bisu yang hanya bisa menangis
Saat yang lain berteriak sinis
Dan pembawa air di mulutnya kau sebut munafik?
Lalu, hendak ke mana kita pergi?
Jika semua tempat telah menjadi arang dan abu?
Akal pemberian Tuhan itu lautan luas
Yang tenang, yang damai
Yang merenung dalam
Bermusyawarahlah -- bermufakat dengan bumi dan langit
Orang tua si api kecil, yang di pundaknya bertahta keadilan
Agar tak ada lagi cerita naas
Bandung Barat, 2017